Generatio Quarta #4

Posted: May 23, 2017 in Uncategorized

Tulisan terakhir untuk anak-anakku, generatio quarta, yang akan diwisuda esok hari.. Agak panjang, namun bacalah perlahan sampai akhir..

Kalian masih ingat Agustus 2014? Yap, sekitar 34 bulan yang lalu kalian diinagurasi.. Pada saat itu, saya ditunjuk menjadi ketua pelaksana (ciyee, pada gak tahu yaa? :p) bersama dengan Ms Tari.. Berat? Jelas. Ada banyaaaaaaak sekali hal yang dipersiapkan.. Dari seragam kalian yang sampainya mepeeeeeet banget, sampai riuhnya pengantaran kembali orangtua kalian ke tempat masing-masing.. Ketahuilah nak, inagurasi adalah moment dimana orangtua kalian “melepas” kalian untuk bersekolah dan tinggal di asrama SABS (yang pada 34 bulan lalu masih bernama ASBI), melepasnya kepada guru-guru kalian..

Ada makna yang berbeda bagi saya secara pribadi.. Beberapa minggu sebelum inagurasi kalian, saya diamanatkan menjadi kepala asrama SABS bersama dengan Ms Grace.. “Umur 23 tahun jadi kepala asrama, bisa apa gw?” pikiran itu banyak muncul, bahkan di benak saya sendiri.. Saya curhat sedikit yaa, tak jarang saya mendapat ‘tatapan kaget’ dari orangtua kalian tatkala saya memperkenalkan diri sebagai kepala asrama kalian, sebagai orangtua kalian selama kalian di SABS.. Tak aneh, sungguh tak aneh, karena jika saya di posisi mereka, tentu saya akan ragu jika kepala asramanya bahkan belum berusia 25 tahun.. Masih anak ingusan lah.. Namun, kalianlah anak-anak yang membuat saya berani, membuat saya percaya bahwa saya bisa dan mampu mengemban tugas tersebut, sampai masa bakti saya berakhir di 2015 yang lalu.. Untuk itu saya berterima kasih, atas semangat dan dukungan yang kalian berikan kepada saya, Bapak Asrama kalian ini..

Maafkan Bapak, anak-anakku tersayang.. I knew I promise to take care of you until the last, but I could make it happened only for your first year there.. Ada kesempatan lain dan keputusan lanjutan yang membuat saya haruslah beralih peran dan tempat.. It was all on me, never ever think that you guys are the reason I left our school, our lovely dormitory.. And it was hard, sooo hard for me to leave you guys at that time.. But decision was made and I gotta leave.. Semoga jikalau ada diantara anak-anak angkatan keempat Bapak ini yang masih “gak terima” karena keputusan saya dahulu, bersedia memaafkan Bapaknya ini ๐Ÿ™‚

Tentang kalian, tentu saya punya penilaian saya sendiri.. Bagi saya, setiap angkatan itu unik dan berbeda satu dengan yang lain.. Angkatan kalian, angkatan keempat, adalah angkatan yang paling “pemalu”, dalam maknanya yang baik.. Kebanyakan dari kalian tidak suka ceplas-ceplos, namun tak berarti kalian diam dan tak berdiplomasi.. Jika kalian masih ingat, saya sering mengucapkan di dorm assembly, “speak up and negotiate, if you think you have reasons to be right”.. Kalimat itu bukan kalimat menantang agar kalian selalu protes tatkala ada peraturan baru yang kalian hadapi, namun kalimat itu adalah kalimat penyemangat agar kalian “tulus seperti merpati, namun cerdik seperti ular”.. Asal kalian tahu, saya masih “kepo” meskipun saya sudah meninggalkan SABS.. Saya suka tanya senior/guru kalian tentang perkembangan kalian dan hal-hal yang terjadi.. Dan, sepanjang saya ketahui, you guys did a very good job in living your life there.. It was an honour for me to be your papa, my kiddos ๐Ÿ™‚

Well, tomorrow is YOUR graduation day! Saya belum tau kapan kalian secara resmi meninggalkan sekolah dan asrama SABS, namun saya tau sekali bahwa jalan panjang ada di depan kalian.. Kehidupan nyata, dengan orang-orang berbeda dan tantangan tersendiri akan siap mendatangi kalian, entah itu cepat atau lambat.. Ah, saya sih percaya bahwa kalian akan baik-baik saja.. 3 tahun yang kalian alami di SABS bukanlah 3 tahun yang mudah..

Saat kalian masuk ke paragraf ini, coba pejamkan mata kalian dan reka ulanglah dalam benak kalian, perjalanan sejak Agustus 2014 saat kalian diinagurasi, sampai Mei 2017 saat akhirnya kalian diwisuda.. Pejamkan mata kalian, dan hargai proses yang sudah kalian selesaikan..
Bukan perjalanan yang mudah, anakku..
Tinggal jauh dari orangtua kalian di umur yang masih remaja..
Menghadapi perubahan yang banyak dan terkadang tak sesuai dengan ekspektasi..
Menjadi junior dan menghormati sampai menjadi senior dan menyayangi..
Bukan, bukanlah perjalanan yang mudah..
Maka, nikmatilah jam-menit-detik menjelang saat wisuda kalian..
Kalian capek karena latihan ini-itu, mau jalan ke panggung aja banyak banget aturannya?
Kalian lelah karena saat sudah di panggung, kening kalian mendadak terasa gatal dan kalian gak boleh garuk-garuk?
Kalian bete karena harus senyum manis, padahal kalian sudah capek dan lelah?
Kalian kesal karena sampai beberapa jam menuju hari wisuda kalian, masih saja dimarahi?
Nikmatilah…
Nikmati, karena selepas ini kalian akan berjalan sendiri.. Berjalan di kehidupan yang mungkin asing bagi kalian, yang sudab terlalu nyaman 3 tahun tinggal di Wisma Kinasih.. Nikmati, karena bab baru di buku hidup kalian sudah siap untuk kalian tulis..

Sampai jumpa esok hari, semoga ada jodoh kita bertemu di Balai Sidang Kinasih.. Jika di Agustus 2014 saya “menerima” kalian sebagai orangtua asrama kalian, maka ijinkanlah saya “melepas” kalian, karena tidak ada kan istilah “bekas bapak” atau “mantan bapak”?

๐Ÿ™‚

Yeay! 14 Februari sudah datang! Bagi sebagian orang, hari valentine adalah hari spesial untuk menunjukkan kasih sayang kita khususnya kepada orang yang paling kita kasihi. Terlepas dari makna kebaratannya, asal muasal terjadinya, dan hal-hal lainnya, hari kasih sayang ini tetaplah menjadi momentum bagi seseorang dalam pengekspresian rasa kasih sayangnya. Saya termasuk orang yang seperti itu, tapi bukan apa yang akan saya lakukan (hmm, tepatnya berikan sih) yang akan saya bagikan disini, melainkan apa yang saya harapkan terjadi di hari kasih sayang tahun 2017 ini.

Satu hari setelah hari valentine adalah hari libur nasional dalam rangka pilkada serentak. Yap, pemilihan kepala daerah. Apa kaitannya dengan valentine’s day ini? Ada, yaitu kasih di dalam diri kita. Pilkada tahun ini, khususnya pilgub DKI Jakarta, semakin menunjukkan betapa kurangnya kasih yang dimiliki setiap orang dalam hatinya. Saya selalu pusing tatkala membuka laman Facebook karena berjubelnya tautan-tautan mencela, menjatuhkan, menghina, dan semua definisi buruk lainnya satu dengan yang lain. Sangat langka orang-orang menyorot kebaikan atau keunggulan dari suatu calon, tertutup dengan kehendak untuk hanya menjatuhkan orang lain dengan terus-menerus memborbardir hal yang bahkan sebenarnya sepele atau tidak sepenuhnya benar.

c0c0dbcc7433a245360cac8e071cce61Kurang kasih sayang, itulah yang menurut saya terjadi di negara saya tercinta ini. Khotbah yang saya dengar di gereja pada minggu lalu berujar tentang suatu perumpamaan. Semisal seorang anak tidak memiliki permen, apakah anak tersebut dapat memberikan permen bagi ibunya jika dia diminta? Jawabnya tentu tidak, meski sang anak mau (dan tahu bahwa harus) memberikan permen tersebut, namun hal tersebut tidak dimilikinya. Lantas, dalam kondisi apa sang anak dapat memberikan permen saat ia diminta ibunya? Tentu, saat dia memiliki permen tersebut.

Seperti itulah yang terjadi di sekitar kita pada masa menjelang pilkada ini, orang-orang mendadak kehabisan kasih sayang dan kelebihan rasa benci akan suatu hal atau akan seseorang. Sehingga, dibanding menebarkan damai, orang banyak malah menebarkan berita yang buruk dan menjatuhkan. Padahal, bukankah setiap agama dan kepercayaan mengajarkan kita untuk saling mengasihi? Bukankah setiap apa yang kita anut menyaratkan kita untuk berbuat baik satu dengan yang lain? Sederhananya, saat kita bangun tidur dan masih merasakan kelima indera kita berfungsi dengan baik, saat itulah bukti bahwa Tuhan mengasihi kita. Jadi, jika Tuhan saja mengasihi kita (tanpa kecuali), mengapa kita masih membenci?

Untuk itu, hendaknya kita berharap agar ruang kasih sayang di hati kita dipenuhi lagi oleh Tuhan. Ariflah apabila dalam doa yang kita panjatkan, turut kita selipkan kata kasih agar diberikan kepada kita, semata agar kita dapat pula mengasihi orang lain. Bagaimana kita bisa mengasihi apabila kita tidak punya kasih, dan bagaimana kita bisa punya kasih bila kita tidak memintanya dari Sang Sumber Kasih? Berdoalah kawan, penuhi hati kita dengan kasih dan bagikan kasih itu ke setiap orang tanpa terkecuali.

from @senorjoey to @missgracechandra

Posted: January 11, 2017 in Personal

This afternoon is the last time I (physically, you know that we can do video call, rite?) meet you for quite a long time. By the time you read this post, you are closer with a Kangaroo than with me! Remember what Mr Ken always says in our IELL class? Joey is a baby kangaroo, so later when you see kangaroos, hope you can meet the babies and remember me there. A bit weird, but yeah never mind.

byegrace!

drama dikit, kali aja kan masuk ftv :p

You know what Ce, I am not crying or even sad at the airport. I somehow feel the glory and joy inside myself with your leaving. Again, a bit weird but yeah never mind. I wrote this post so you can know why I say that I am happy to see you go.

Since the veeery first time we go to Kinasih together, we accompany each other in our worst and best moment. And for me, your study trip to Melbourne is one of our best moment. I know exactly how deep you want the opportunity to study at US. Well, God decide you to taste Aussie first. Your US dream and my Spain obsession perhaps will be goals that will be managed still in the future. “I can dream the impossible, I fear not the obstacles”, remember?

Ce, you know a mistake that I made in my early time here. I told you, not to make you worry about me. You know I can handle myself, right. I told you because I don’t want you to have similar experience like me. Early university life will be sucks, but God will help you through the way. That’s why I send you the cross (hope you bring it anw) so you can remember Him at your bad and good days there. It’s only you and yourself there; your family, your friends, me, or even Timmy are faaaar away to reach you. But remember that God is always with you, so keep your faith hey my darling! ๐Ÿ™‚

Hey, now I cry (just a little, really) in the train. Why? Because finally WE DID IT! Finally BOTH of us enter one further stage to reach our dreams. Tears drop because I remember our ups and downs since we enter that SDO internship and start to live up our dreams. Geez, there are so many things that happened during these back 4 years! So many dramas, laughs, tears, bitters, sweets, and other things that happened to us, and somehow we manage to enter this stage. Yes, I do cry now, Ce. ๐Ÿ™‚

It’s not a goodbye, it’s a see you later! US and Spain maybe our dream place, but to work together again as a partner is our mutual dream! I dooooo hope we can make it happens someday. I miss you already, mi hermaรฑa. My prays will always be with you.

Since 2009,

from @senorjoey to @missgracechandra

So, this is my first blog post at 2017 and this must be a great post.

Kidding! Hahaa, this one is still about my thoughts of things around me. For now, it’s about New Year 2017.

Semacam tradisi sih di keluarga kalau 31 Desember itu kita ibadah ke gereja. Yup, bisa dibilang tradisi bisa juga kebiasaan sih, semacam lumrah lah di umumnya keluarga-keluarga Kristen. Meski begitu, menurut saya pribadi pandangan bahwa beribadah (in general view, I am not specifically mention about my or your religion, okay) di penghujung tahun seharusnya bukan menjadi tradisi atau kebiasaan. Beribadah di penghujung tahun haruslah karena kita ingat akan yang sudah terjadi 364/365 hari sebelumnya, dan memaknai waktu “terbatas” yang kita miliki di dunia semu ini.

Yup, percaya waktu kita di dunia itu terbatas? Semakin berlalu hari, semakin berkurang waktu kita hidup di tempat yang konon dibatasi oleh kata lahir dan mati. Jadi, beribadah di akhir tahun, menurutku, harusnya juga jadi pengingat kita bahwa Tuhan (no matter how we call our God) memberkati kita dengan WARBIYASAH sampai kita ada di ujung tahun dan siap memulai satu tahun lainnya.

Dunia. Terbatas. Mati. Seram gak sih? Iya, kalau kita selama ini menjalani hidup kita dengan “gerhana ketuhanan”. Pendeta di ibadah ujung tahun 2016 berujar tentang istilah “gerhana ketuhanan” tadi. Menurut beliau, hal tersebut adalah kondisi saat hubungan kita sama Tuhan tertutupi sesuatu hal, layaknya kasus gerhana-gerhana yang juga tertutupi sesuatu. NAH, semisal “gerhana ketuhanan” yang menutupi kita hidup dekat dengan tuhan ini terjadi terus-menerus di hidup kita, maka tiga kata tadi akan jadi padanan kata yang sangaaaaaaatlah menyeramkan.

Again, I reflect on myself every time I wrote something here. My 2k16 life also filled with phases of this kinda eclipse. I lost my path at most of the time. Yup, dunno why I prioritize my wills above His’. Deep down, I know that God will provide me the BEST way I could ever have, though the process somehow make me bleeding. Nah, those bleeding processes are the ones that make me took wrong directions and caught up in this eclipse. I know it’s wrong, but somehow am still doing it. I know God will protect me, but somehow I let my fears hold my breath. I know, I know. But this eclipse (yang parahnya kusimpan dan kupelihara sendiri) hides my knows and gives me the purposeless path.

Maka. Gimana biar gak ada “gerhana ketuhanan” lagi di hidup kita? Komunikasi.

Yup, hubungan yang baik dibangun dengan fondasi komunikasi yang kokoh. Sama dengan hubungan yang baik dengan Tuhan. Gerhana keTuhanan itu jelaslah produk keburukan komunikasi dengannya. Menurutku pribadi (well, it’s okay if you have different ways about how to communicate with God, never mind) komunikasi dengan Tuhan bisa kapan dan dimana aja. Berdoa dalam definisiku gak harus tutup mata. Gak harus lipat atau angkat tangan ke udara. Gak harus sujud di tempat ibadah atau sembunyi di dalam kamar. Gak harus ribet, asli.

Saya termasuk kalangan orang yang percaya Tuhan ada di hati setiap orang. Maka, berujarlah dalam hatimu. Gak perlu ada orang tahu bagaimana dan apa yang kita komunikasikan dengan Tuhan, karena biar kita komunikasi dalam hati kita. Percuma toh, raga berlagak suci kalau hatinya kotor? Daaaaaaan, komunikasi sama Tuhan gak boleh egois juga menurut saya. Gak melulu dalam hal negatif kita baru menyebut nama-Nya, dalam hal positif pun kita wajib berkomunikasi denganNya. Suatu artikel pernah kubaca, untuk kita membuka mata kita setelah tidur malam saja sudah banyak sekali bagian dalam tubuh kita yang berkoordinasi dan membuat kita bisa bangun, pernahkah kita bersyukur akan hal ini? Dalam hati saja jawabnya yaa ๐Ÿ™‚

Paragraf terakhir, kembali, saya juga belum suci kok sampai detik kamu membaca tulisan ini. Saya juga masih belajar mengatasi “gerhana ketuhanan” versi hidup saya, jadi saya nulis ini bukan untuk menggurui siapa-siapa.

Refleksi (eh, yang diatas bukan paragraf terakhir dong, lol :v) akhir tahun ini semoga bisa bermanfaat bagi semua yang membaca, agar 2k16 bisa disyukuri dengan baik dan 2k17 bisa dipandang dengan hidup tanpa gerhana keTuhanan. Yuk, komunikasi! ๐Ÿ™‚

64

Posted: December 24, 2016 in Personal

Halo Bapak,

Wah sudah ulang tahun ke 64 hari ini. Setelah beberapa minggu tak kembali ke rumah, Putra menyadari satu perubahan di Mama bahwa uban Mama makin tak terkendali. Jadi, jika Bapak masih disini, rambut Bapak yang tipis pasti sudah peuh dengan uban. Atau, mungkin Bapak pakai cat rambut? No one knows, because you are not here anymore.

Yup, kalimat terakhir diatas itu ada di inti pemikiran Putra belakangan ini. Bapak sudah gak disini lagi. Iya. Sudah gak disini lagi. Termasuk hari ini, di ulang tahunnya yang ke 64 tahun, Bapak sudah gak disini lagi. Putra ngaku Pak, bahwa Putra makin saru mengingat tawa Bapak yang besar dan gelegar itu. Putra ragu, seperti apa raut marah Bapak saat Putra kecil dulu suka nakal. Putra samar, bahagianya waktu dulu sekali kita pergi berdua ke Taman Mini Indonesia Indah, naik semua wahana yang Putra mau, bebas tanpa babibu inainu.

Satu bulan lalu, Putra sudah 25 tahun Pak. Iya, 25 tahun. Di umur 25 ini, Bapak sudah menikah dengan mama. Putra apa? Masih mahasiswa semenjana. Mengaku punya pacar tapi gemar beradek-adekan bahkan mengiyakan sinyal dari mantan. Mengaku dewasa namun air mata jatuh terus tiap ingat Bapak. Pak, Putra kangen sekali. Kangen sekali.

Sudah empat belas ulang tahunmu yang Putra lewati hanya dengan mengenang dan berziarah. Putra pun lupa, kapan terakhir kali Bapak datang ke mimpi Putra. Hmm, mungkin memang datang tapi Putra yang tidak ingat mimpinya. Putra mengaku Pak, belakangan ini Putra makin sering “nyalahin” Bapak. Setiap Putra down, setiap Putra gak kuat lagi, setiap Putra mau mundur, setiap Putra gatau harus ngapain, I put the blame on you. Why did you leave me so soon? Why did you leave me when I wasn’t even 12 years old and knew nothing about how hellish this world could be?

scripture-doodle-4Seharusnya Putra gak nulis lagi tentang Bapak, sudah banyak loh Pak isi blog ini tentang Bapak semua. Tapi, kerinduan Putra terhadap Bapak ya memang toh gak akan habisnya. Tenang Pak, semua paragraf buruk diatas itu Putra tau Putra harus atasin. Putra percaya kok bahwa Bapak pergi 14 tahun yang lalu itu yang terbaik bagi Putra yang sudah dirancang oleh Tuhan Yesus. Putra kuat kok Pak, meski selalu rinduin Bapak, sering nyalahin Bapak, jarang mimpiin Bapak, dan gak pernah gak berairmata kalau inget Bapak. You are in peace up there, so I know I am going to be fine in here. As written in the picture of this post, someday I’ll (fully) understand about His plan with us, Pak.

Jadi, selamat ulang tahun Bapak. Semoga Mama dan semua garis keturunan dari kalian berdua selalu sehat dan bahagia selalu. Bukan untuk yang terakhir Putra kembali bilang, Putra kangen Bapak. ๐Ÿ™‚

Hari 2016 terakhir di Bandung, dibuka dengan ujian suatu mata kuliah. Belakangan ini suka teringat orang-orang suka berkata “usaha tidak akan mengecewakan hasil”. Tapi, rasanya kok usaha segimanapun tetap tak sejalan dengan ujian yang dikehendaki, hehe. Biarlah, saya percaya kok Tuhan pasti memberi hasil yang terbaik. Dan yang terpenting itu sedalam apa pengetahuan kita akan suatu hal, bukan sebatas nilai berselang A sampai E di rekapitulasi.

Hari 2016 terakhir di Bandung, diisi dengan kumpul bersama teman-teman. Kembali, saya teringat orang-orang suka berkata “yang dekat beberapa hari bisa akrab layaknya bertahun-tahun, yang selayaknya karib bisa terasa seperti orang asing”. Yup, begitu juga dengan hari-hari terakhir di Bandung. Mendadak dekat dan karib dengan beberapa teman yang sebelumnya asing. Karib sampai seharian bisa bersama, belajar yang diselingi olokan akrab, makan siang dan malam yang ditentukan searah langkah kaki, dan humoran receh di grup whatsapp yang juga baru seumur jagung. Rasanya senang, karena kelak saat datang kembali ke kota ini di 2017, sudah ada kawan karib yang sedianya mengakrabi.

Hari 2016 terakhir di Bandung, ditutup dengan perjalanan jarak jauh dari Bandung menuju Jogjakarta. Atas nama Menyapa Indonesia, saya datang kembali untuk mengabdi yang sedikit saja kepada Indonesia di Dukuh Sebatang sana. Unik sekali, karena ada dua sahabat yang menemani saat berangkat menuju stasiun. Saya pernah berkata kepada seseorang, “Jonathan itu tidak suka banyak penonton di panggungnya”, termasuk untuk hal-hal sepele seperti ini. Memang, ada beberapa khalayak yang saat pergi jauh senang diantar oleh sekitarnya, namun saya bukanlah bagian dari khalayak tersebut. Jadi, perlakuan kecil ini sungguhlah membuat senyum terpatri di muka lelah ini. Senyum, karena di Bandung rupanya telah kudapati juga adik-adik yang sebelumnya tak ada kupunya.

Hari 2016 terakhir di Bandung.
Apa sih yang sudah saya benar-benar lakukan di kota ini?
Apa sih yang sudah saya ubah di diri sedari ada di kota ini?
Apa sih yang sudah saya targetkan sampai saya hendak kembali lagi?
Apa, dan apa?

Pertanyaan tak akan berakhir, karena saat semua pertanyaan terjawab, disitulah petualangan berakhir. Dan petualangan saya di Bandung barulah dimulai. Tahun depan, saya akan kembali dengan lebih kuat untuk menaklukanmu.
Sampai jumpa di 2017, Bandung.

Jonathan,
diatas kereta Kahuripan.

I woke up early today. Around 4am, I already open my eyes and start to think about what will happen today. First, I took my time for a moment to pray, and minutes later I found myself drowning in my own wild thoughts. Yup, somehow I think of what happened during my whole first semester. Yup, today is my last day of my first semester, of course without considering the exam days.

There are so many things that happened in this first semester. How I adapt with a totally new environment. I knew that I don’t have problems with meeting and adapting new people, but environment is another case. In my new campus, the cultures and atmosphere is quite different than my previous one. Of course, there are better and worse comparison that lead me to the time needed for adaptation. I realized that the adaptation with environment was not easy. In fact, I perhaps still on the adaptation process though today’s the last day of my first semester.

Another one that comes in my mind that being old (most cases: oldest) is a new thing for me. In the past several years, I am used to belong in middle age group or even in the young age group. But, I’m one of the oldest student among all of my classmates. Most of them were born in 1993-1994, even one of my friend was born at 1996. This is kinda strange yet funny, because most of my friends then call me by “bang jo”. Well, among all hard times that I have, getting is experience perhaps is the most unique one.

Other part that really took my time is how I handle the weight of my study problems. On my previous posts, I wrote some reflections on how knowledge could make me leave God out of my thoughts. I am enjoying my miseries while I already know that God is above everything. This first semester taught me a lot that we still must involve God in every steps of our ways. No matter how advance our understanding or how deep our knowledge is, that’s nothing without believing in God as our savior that strengthening us along our way in this life.

Well, I did tell you that this is my last “study” day which means that I still have exams on the way. So, I need to stop here and go back to the problems I need to solve. Wish me luck for my exam, you guys whom accidentally read this stop. God bless you! ๐Ÿ™‚

What is friendship? This is a question that really bothered me in the past few days. As in the new environment, I got pushed to befriend with new people. I need to make friends but not for so important reasons. Just ordinary ones, like friends who we hang out with, friends who we laugh together, or friends who we talk to discuss about life. Still, this condition doesn’t really answer the question: what is friendship?

To make it cool, lemme look into the formal meaning of friendship. Friendship (noun, \หˆfren(d)-หŒship\) is the state of being friends, the relationship between friends, a friendly feeling or attitude, kindness or help given to someone. Well, I’m not really satisfied with this meaning, so I gotta use my own meaning of the word friendship. Friendship (noun, \หˆfren(d)-หŒship\) is the mutual feeling between two persons.

Yup, mutual feelings.

What does it mean? For me, it means that you and people you called by friends must have the same feeling toward this relationship. If you are willing to share your problems or sadness to them, you should be ready to spare their problems or sadness too. Also, you must remember them in your happy time if you want them to share their happiness with you too. So, it’s about mutual.

Sadly, not all people fulfill my definition above. Some people just meet someone when they need something. For example, when A need B as a sharing partner for her problems, A will just come to B and make B like her friend of life. But, when B are looking for the same with A, she will get nothing. There are so many people like A, who will not listen to her so-called-friend-for-life whenever B need A to be on her side.

For me, there is one worse example of people who not fulfill my definition. A is not only “missing” when B need someone to be on her side, but A also do not remember B in A’s happy time. In other words, A only finds B only in the hard times, but dismissed B in the happy time. Again, there are sooooooooooo many people like A, who just remember someone in the hard time not in the happy time too.

I lead to my conclusion, that you should get rid of people like mentioned above. The examples given does not mean that everyone is like A, there are also true friends who are there in the happy and hard time, and we must be grateful to have people like them. But for people like A, don’t put too much expectation on them. Wishing people like A to be your true friend is a waste of time. So, just focus on your true friends surround you and let the mutual feeling between friends get stronger.

Ciao, people like A ๐Ÿ™‚

Once I was …

Posted: November 22, 2016 in Personal

Once I was 7 years old, November 22nd was filled with happiness. I scratchy remember my parent’s friend, school friends, families came to my house and celebrate the birthday. It’s kinda unusual, because my family is not a family of celebration even when we were kids. That’s why, I still remember the moments when I celebrated my birthday long time ago.

Once I was 12 years old, November 22nd was just a date. Heaven called my dad like a month before and home was not full of happiness at that time. Still, mom and I pray together (well, she prayed for me actually), my siblings congratulated me, and my friends at school too. But, that was different because it’s the beginning of new time. It was my first birthday without my dad and there is not a day spent without I miss him.

Once I was 16 years old, November 22nd was a new experience for me. For the 1st time, I spent my day with my girlfriend. Hmm, technically we didn’t spend it together since she lived outside Tangerang, but still the memory will always be there. I still remember around 12 am when she called me and singing a birthday song. That was quite simple and usual, but it surely gave me a memory I won’t forget.

Once I was 19 years old, November 22nd was another story of a girl. I realized that most of my relationship is a long distance one, when I only had time to meet once in a one/two months. This was different, she came to my house in the middle of the night, the date almost changed to 23rd but yeah she came and brought me cake and let me wish a birthday wish together. That was my first surprise by a girl I loved and sure it feels nice. It was a nice memory of us.

Once I was 22 years old, November 22nd was known by hundreds of people! I lived at a dormitory there, as a dorm parent and a house advisor. That is a dorm consist of around 400 students where I need to take a role as their parent. I didn’t realize they prepare a thing for me in this date, until it happened. We are not that different in the matter of age, so I’m so fine with them surprising me with waters and any other silly things for celebrating this day. It’s another feeling that I got, to be loved as a parent, a brother, a friend of so many people. I feel blessed.

Now, I am 25 years old. November 22nd is a reminder of me of: “Hey Jo, what’s next?”. This morning, I reflected myself in the past few years. I got worried by several things I shouldn’t, I got too sensitive of things I should’ve just let it go, moreover, I realized that I am just a mask of faith. My mouth is so faithful when I discuss with others but I’m not always put it together when it comes to my own problems. Several months ago, I made a mistake and I must face the consequence(s) sooner or later. I know, God forgive me, but I also know that He will probably let me get my consequences. For what? For me to learn, for me to take the bitter pills, for me to be better in Him who guides me. This morning, that’s my promise; to be better in Jesus who gives me everything I need. I shall not disappoint Him and will glorify Him in whatever conditions I will have in the future. I know I will, because the He is there and Holy Spirit guides me too.

Soon, I’ll be no longer 25 years old and I promise to myself, I will be better that what I am now. ๐Ÿ™‚

Seberapa sering kita melihat pelangi? Mungkin, orang-orang di Jakarta tidak terbiasa melihat pelangi di langit. Bahkan, bisa jadi anak-anak Ibukota generasi tinggal-di-rumah-biar-aman mengenal pelangi dari gambar atau film. Sekarang, percayakah anda bahwa pelangi akan datang selepas hujan, bahkan badai sekalipun?

Coretan ini lebih sebatas refleksi, yang saya lakukan terhadap diri saya sendiri, namun akan suatu hal yang sebenarnya terjadi pada sahabat karib saya. Pagi itu, dia mengabari berita buruk yang terjadi padanya. Sesuatu terjadi, dan itu sangatlah mendadak, seperti petir di siang bolong jika orang-orang bilang.

Tidak ada hal lain yang bisa kusampaikan, selain menyemangati dan berkata agar dia tetap tabah dalam pencobaannya. Kita semua pernah mengalami masalah, beberapa yang kita anggap “terberat” pernah kita alami dan tetap kita lewati. Terucap lidahku, “tenang, selalu ada pelangi sehabis hujan” kepadanya.

Tak lama berselang, saya termenung. Saat hujan mendera, petir menyambar, badai menerjang, mampukah kita mempercayai penglihatan kita akan kelak melihat pelangi? Saat sesuatu yang, menurut kita, sangatlah buruk terjadi pada kita, mampukah kita percaya bahwa ada makna baik di balik kejadian-kejadian ini?

Pertanyaan diatas perlu saya dan kamu refleksikan bersama. Kembalilah ke konsep keimanan kita, terhadap bagaimana kita percaya kepada Tuhan, yang tidak bisa kita cerna dengan kelima indera kita. Seperti itulah kita percaya akan rencanaNya bahwa akan ada “pelangi sehabis hujan”, bahwa akan ada hal baik yang muncul meskipun saat ini kita dilanda hal buruk bertubi-tubi. Percaya, dan terus berusaha sebaik yang kita bisa, niscaya akan lebih tangguh dalam menerjang “badai” yang ada.

Jadi, siap untuk melihat pelangi?