Untuk Blog Contest Mizan.com

 

Sejak kecil, saya sudah dicekoki oleh novel-novel detektif karya Agatha Christie. Satu cerita yang paling saya ingat adalah cerita 7 Anak Negro. Olehnya, saya dibuai oleh pola berpikir dan menulis yang kedetektif-detektifan. Sedikit menegangkan, mengemukakan detail-detail kecil di akhir, dan mematahkan alibi pembaca tentang “Siapa sih pelaku kejahatannya?!”.

Ya, itulah dampak Agatha Christie, cukup besar terjadi pada saya saat itu, hingga saya berpikir, “Penulis Indonesia mana nih? Engga ada gaungnya banget ya.. Ckck” Pemikiran ini berlanjut sampai akhirnya saya membaca novel Perahu Kertas ala Dewi ‘Dee’ Lestari.

Akhirnya, muncul juga penulis Indonesia yang mampu menulari saya virus ‘bangun dan menulislah, pemalas!!’. Banyak hal yang ‘ditulari’ Dee pada insting penulisan saya. Namun, satu yang paling kentara adalah bagaimana saya menulis lepas, dengan tetap berpegang pada kaidah-kaidah pembahasaan yang ada.

Bingung dengan apa yang saya maksud? Begini, saya paling kesal kala membaca tulisan yang penulisannya acak adul, seperti: “Hei, mana twitter lo? Sini cepet biar gw add!”. Semenjak saya membaca novel-novel Dee, saya yakin Dee akan menulisnya dengan: “Hei, mana twitter lo? Sini cepet biar gw add!” Itulah Dee yang menginspirasi saya. Saya belum menemukan ada salah peletakan tanda baca, salah penggunaan kata serapan maupun salah pemakaian kata ejaan Bahasa Indonesia pada karya-karya beliau.

Hal ini sangat berarti bagi saya. Profesi saya adalah mahasiswa pendidikan, yang notabene akan menjadi guru (bahkan saya pun sekarang sudahlah seorang guru). Maka, pola penulisan Dee jelas akan membantu saya dalam kehidupan tulis-menulis saya. :)

 

Dari: Jonathan Saputra

Untuk: Mizan.com

“Mimpi adalah kunci untuk kita menaklukan dunia.”

Yup, kata-kata itu adalah salah satu kutipan dari sebuah film fenomenal di Indonesia, Laskar Pelangi. Kata-kata itulah yang menginspirasi saya untuk menulis tulisan ini. Mimpi! Marilah kita bermimpi!! Majukan bangsa Indonesia, wujudkan mimpimu dan raihlah!!!! Ayo pemuda-pemudi Indonesia!!!!!!

Oke, maaf ya pembukaan itu gajadi, rasanya terlalu berbunga bahasanya. Meskipun yeah, bener kok yang saya tulis seperti itu adanya. :D

Semasa SMA, mimpi saya adalah menjadi guru, dan apa yang saya jalanin sekarang adalah sepenggal langkah dari perwujudan mimpi saya itu. :) Puji Tuhan saya dapet beasiswa dari suatu yayasan pendidikan dan sekarang saya berkuliah di salah satu universitas pendidikan terkemuka di Indonesia. (Apa? Mau tahu nama kampusnya? Cek di Facebook saya aja yaa.. :) )

Masa perkuliahan dimulai. Di semester pertama saya kuliah, muncul satu mimpi baru. Research assistant. Mimpi menjadi research assistant ini muncul karena ada ransangan dari suatu hal. Waktu itu, 2 dosen saya pergi mengikuti International Conference di Valencia, Spanyol. Selain ke Valencia, mereka juga mengunjungi kota-kota lain di Eropa. Yup, itu karena research mereka  sesuai dan merupakan pengetahuan yang baru sehingga mereka bisa terpilih ke International Conference itu.

FYI, Spanyol adalah mimpi besar saya sejak dari bangku SD. Yup, saya engga tahu kenapa bisa ada nama Spanyol di otak saya sejak saat itu. Bahkan, ketika SMA saya sempat berkata akan masuk Universitas dengan jurusan Sastra Spanyol, sebelum saya sadar bahwa jurusan itu belum ada di Indonesia.

Saya ingin sama seperti mereka, pergi menginjak negeri orang karena kemampuan dan pengetahuan yang dimiliki. Apresiasi itu merupakan hal yang tentu ingin didapat oleh edukator manapun. Selain itu, nama Spanyol pun menambah ransangan terhadap mimpi ini. Lantas, bagaimana mewujudkannya? Research assistant. Apresiasi. Spanyol. Yoo, keep the dream alive!!!!

Saya menunggu dalam 2 tahun pertama, namun kesempatan itu tak datang juga. Medio Februari 2011 sebenarnya ada  satu lowongan, namun saya sudah terlibat dalam project lain, meskipun project itu bukanlah tentang penelitian seperti yang saya impikan. Menunggu dan terus menunggu. Ya, akhirnya ada lagi lowongan research assistant pada akhir Juli 2011. Apresiasi. Spanyol. ‘Bau-bau’ itu semakin dekat rasanya di hidung saya. Voila!

Dengan semangat saya mengirim CV saya pada pihak berkaitan tentang lowongan asisten penelitian itu. Wow, hati saya dug dug dhuarr menunggu jawabannya. Untung saja tidak ada ninja-ninja negeri Konoha di sekitar saya saat itu. (Hubungannya apa? No, jangan tanya saya . :p)

Ada satu hal yang saya lupa pada saat itu. Tepatnya di pertengahan Juni, saya telah melamar posisi untuk menjadi tutor pembelajaran Matematika/IPA pada salah satu sekolah dasar swasta di Jakarta Timur. Dosen pembimbing saya kala itu menawarkan saya karena syarat yang saya sanggupi untuk posisi itu. Saya setuju dan sejenak lupa akan keinginan menjadi seorang research assistant.

Waktu berlalu. Terus berlalu. Berlalu dan berlalu. Akhirnya sang empunya waktu terlebih dahulu menjawab perihal tutorial daripada lowongan asisten penelitian. Jelas saya menyetujui project tutorial ini, ada tanggung jawab yang saya punya ketika melamar posisi ini. Rasanya picik, jika kala itu saya mundur karena menunggu jawaban suatu lowongan yang tak pasti pula apa jawabnya.

Tak lama, pengumuman posisi research assistant pun keluar. Tetot. Seperti yang saya duga, tak ada nama saya disitu. Saya tidak kaget dan tidak kecewa, karena memang peraturan menghendaki mahasiswa fokus terhadap satu project/internship/assistance saja.

Saya memang tidak kecewa dengan hasil yang ada. But down deep in my heart, I’m disappointed. Sudah satu setengah tahun saya ingin posisi itu. Ya, karena saya ingin menjadi seorang researcher. Saya ingin menginjak negeri orang karena pengetahuan saya, karena ilmu yang bisa saya bagikan pada mereka. Saya ingin ke Spanyol suatu hari, bukan untuk liburan tetapi karena penghargaan terhadap ilmu, kerja keras dan kemampuan saya. Ah, mimpi itu menguap. Cepat. Tiba-tiba. Tak tercegah.

Sampai suatu malam, saya sedang bersiap tidur. Di kasur saya terdapat satu buku renungan untuk saat teduh. Buku itu edisi lama, edisi April 2007. Iseng, saya mebuka renungan itu. Asal saja saya membukanya, lalu membaca renungan yang ada di dalamnya. Saya terhenyak.

Renungan itu menyatakan tentang cara Tuhan menjawab doa kita: Ya, Tidak, Tunggu Dulu. Singkatnya, kadang kita merasa bahwa jika apa yang kita maui itu tidak terjadi, berarti Tuhan tidak berkehendak dan tidak mengabulkan permintaan kita. Padahal ada jawaban yang ketiga: Tunggu Dulu.

Saya cepat merefleksikan ini terhadap apa yang sedang saya bebani. Ya, saya merasa bahwa impian saya menjadi seorang research assistant tertutup. Saya merasa bahwa peluang saya belajar menjadi seorang peneliti yang baik musnah. Ditambah lagi mulut-mulut orang yang sering berkata: “jarang loh ada kesempatan kedua, jangan disia-siakan.” Sedangkan saya? Saya menyia-nyiakan kesempatan kedua ini.

Malam itupun saya percaya, Tuhan pasti menyuruh saya menunggu. Kelak akan ada kesempatan serupa, untuk saat ini biarlah saya belajar menjadi guru yang baik. Mengajar di Sekolah Dasar jelas memiliki kesulitan tersendiri yang harus bisa saya hadapi. Kelak saya pasti akan bisa mendapat kesempatan belajar menjadi researcher yang baik, dengan atau tidak menjadi seorang asisten penelitian. Asal saya percaya, mengimaninya, dan berusaha mewujudkannya. :)

Tentang ACCESS

Untuk menciptakan pemimpin masa depan untuk Indonesia melalui pertukaran pendidikan internasional yang lebih tinggi

ACCESS Pendidikan luar adalah sebuah inisiatif dari Putera Sampoerna Foundation yang memberikan kontribusi pada misi pengembangan pemimpin masa depan dan pengusaha Indonesia untuk memenuhi tantangan yang dikemukakan partisipasi global. AKSES mendukung bahasa Indonesia siswa, orang tua dan profesional dalam mengidentifikasi, mempersiapkan dan berhasil mendaftar universitas Amerika dan internasional dengan kapasitas yang komprehensif, profesional dan strategis, dan mendorong universitas-universitas untuk kemitraan antar bangsa.

Klik Gambar Di Atas Untuk Ke Website Resmi

Jika kamu ingin mendaftar silahkan

Nanti akan muncul Form pendaftaran, silahkan isi saja dengan benar.

 

Sampoerna Strategic Square, Jakarta

Minggu, 3 April 2011 pukul 11.00 – 18.00 WIB

Fans Page Facebook

 

via: http://yuan212.wordpress.com/2011/03/21/access-education-beyond-pameran-pendidikan-amerika-terbesar/

DEFINITION ::

The social function of Recount text is to retell past event or something which happened in the past. The purpose of this text can be only to inform or even just to entertain.  Derewianka (1990) identified three types of Recount text, namely Personal Recount, Factual Recount, and Imaginative Recount. Personal Recount exposes an event in which the writer or the author got involved or acted in the event himself. Belong to this type among others are daily funny incidents, entries of a diary, etc. Factual Recount is a note of an event, such as scientific experiment report, police report, newspaper report, history explanation, etc. Imaginative Recount is an unreal event or story, like reading texts for language lesson, a story about a life of a slave, etc. Hardy and Kalrwein (1990) divided two kinds of Recount, namely Personal Recount and Historical Recount.
GENERIC (SCHEMATIC) STRUCTURE ::

Recount text usually has three main parts, they are :
1 Orientation : identify a person or thing acted or got involved in the event, including the time, a certain place, the situation, etc.
2 Series of Events : ordered in a chronological sequence.
3 Re-orientation : not always (optional), it contains personal comments

EXAMPLE OF RECOUNT TEXT ::

My Adventure at Leang-Leang Cave

Leang-leang Cave at Maros, South Sulawesi, Indonesia

On Sunday, my parents, my best friend Sam and I visited a cave at Maros called Leang-leang . It was my first time to visit the cave, better yet, my best friend came to visit it with me!

The cave was famous for its primitive cave wall paintings which were some hand prints and wild boar paintings. The cave and its surroundings was turned into a national park, so it was taken care of.

My parents took a rest in a small hut for visitors of the park, while Sam and I adventured around the cave with a guide. We had to climb some metal stairs to get to the cave, because the cave was embedded into a small mountain.

5 hand-prints

Next stop was a place where some seashells littered the ground and some were actually piled into a big mound! The guide said that these piles of seashells are called kjokkenmoddinger, or kitchen trash. The humans who lived here ate the shells and dumped the left overs in their ‘kitchen’.

The last place was a small museum where they have skeletons of the humans who lived in the caves. The skeletons along with some roughly made jewelry and weapons were placed inside glass cases for display. The walls of the museum were adorned with photographs taken when they did an excavation there.

After a quick lunch with Sam and my parents, we decided it was time to go back home. We really had the time of our lives!


DOWNLOAD ORAL EXAMPLE OF RECOUNT TEXT ::

This is the link to download the voice sample :: download

SOURCE ::

http://najibblog2010.blogspot.com/2010/03/contoh-text-recount.html

http://english-text.blogspot.com/

Teacher's Day 2010

A. LATAR BELAKANG

Pendidikan adalah sebuah jalan yang menuntun anak-anak untuk memiliki karakter yang dibutuhkan bagi masa depan. Pendidikan adalah jalan yang membawa anak-anak menjadi investasi terbaik yang dimiliki oleh generasi masa kini.

Menurut Undang-undang no. 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional, tujuan pendidikan nasional adalah untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Usaha pencapaian tujuan tersebut membutuhkan perjuangan yang keras.Salah satu yang dibutuhkan adalah kreativitas dari para guru terutama untuk mendesain kegiatan belajar yang menyenangkan dan tidak kehilangan tujuan sekaligus dapat mengaitkannya dengan Pengurangan Resiko Bencana karena hal itu adalah salah satu kecakapan yang dibutuhkan oleh anak-anak Indonesia.

Selain itu, hal ini juga berkaitan dengan keputusan Kementrian Pendidikan Nasional yang telah mengeluarkan Surat Edaran Menteri Pendidikan Nasional No. 70a/SE/MPN/2010 tentang Pengarusutamaan Pengurangan Risiko Bencana di Sekolah, melalui keputusan Menteri Pendidikan tersebut diharapkan sekolah dapat memberikan keterampilan yang tepat kepada para siswa dalam menghadapi bencana.

B. TUJUAN

·        Meningkatkan kesadaran masyarakat, khususnya guru dan mahasiswa calon guru tentang pentingnya Pengurangan Resiko Bencana

·        Sosialisasi kurikulum sekolah Pengurangan Resiko Bencana .

·        Meningkatkan jaringan kerja antar tenaga kependidikan.

C. PESERTA

o       Guru SD/SMP/SMA sederajat di wilayah Jakarta, Bogor, Tangerang, Depok, dan Bekasi.

o       Mahasiswa calon guru dari universitas di wilayah Jakarta, Bogor, Tangerang, Depok, dan Bekasi.

o       Target peserta : 80 orang

D. WAKTU DAN TEMPAT KEGIATAN

Hari/tanggal      : Jumat/ 3 Desember 2010

Waktu              : 13.00 – 16.30

Tempat             : Gedung Sampoerna School of Education

Jalan Kapten P. Tendean No. 88C, Jakarta Selatan, 12710

E. TEMA KEGIATAN

“Recovery Begins with Teachers”

o       Topik Seminar  :

1.   Apa yang dimaksud dengan Pengurangan Resiko Bencana?

2.   Kurikulum Pengurangan Resiko Bencana di Sekolah.

3.   Implemetasi Pengurangan Resiko. Bencana di sekolah dan Masyarakat.

F. PEMBICARA

o       Pembicara Seminar :

Konsorsium Pendidikan Bencana*

G. TEKNIS PENDAFTARAN

1.      Peserta dapat mengunduh formulir pendaftaran di web http://semasse.weebly.com

2.      Peserta mendaftarkan diri dengan mengirimkan formulir pendaftaran ke hariguru2010@gmail.com

3.      Peserta membayar biaya pendaftaran sebesar Rp 20.000, – pada saat pendaftaran ulang seminar (on the spot).

4.      Pendaftaran paling lambat pada tanggal 29 November 2010.

Teacher's Day 2010

H.     CONTACT PERSON
Ismi Apriliani (02183670191)

Competition of Mathematics (CoMath) 2010 adalah suatu kompetisi cerdas cermat Matematika yang diselenggarakan atas kerjasama Senat Mahasiswa (SEMA) SSE dengan Math Club SSE. Kompetisi yang sudah diselenggarakan tanggal 23 Oktober lalu merupakan kegiatan pertama yang benar-benar secara keseluruhan diprakarsai dari awal sampai akhir oleh mahasiswa Sampoerna School of Education. CoMath sendiri merupakan agenda tahunan dari Math Club SSE. Untuk tahun 2010, CoMath mengambil tema Smart Inside Fun Outside, dan diperuntukkan untuk siswa-siswi kelas 4-6 SD.

Dekorasi Ruangan.. :)

Sesuai dengan temanya, mahasiswa-mahasiswi SSE berupaya untuk membuktikan bahwa Matematika bukanlah pelajaran yang menyeramkan, melainkan sebuah pelajaran yang juga memiliki sisi fun. Sisi fun dari Matematika ditonjolkan melalui game-game yang digelar di koridor kampus SSE selama kegiatan berlangsung. Game-game yang dimainkan adalah game yang berkaitan erat dengan ilmu Matematika. Selain itu, soal-soal yang dipakai ketika lomba juga dikemas semenarik mungkin. Sehingga peserta  dapat sadar bahwa Matematika adalah ilmu yang erat dengan dunia sehari-hari, dan tentu, sangat menyenangkan. :)

Pak Jeffry, Ibu Desy dan Pak Zaenal (judges)

CoMath merupakan kompetisi cerdas cermat matematika yang bergengsi dan berkualitas tinggi. Juri-juri di ajang ini merupakan para dosen fakultas Matematika SSE, yang memiliki background pendidikan minimal gelar master. CoMath juga disponsori oleh nama-nama terkenal, yaitu Bee Magazine dan PT PrimaFood Internasional. Selain itu, acara CoMath sendiri diliput oleh media elektronik kompas.com seperti pada link berikut :: (buka ini) , (ini juga) dan (satu lagi).

Suasana Lomba

Suasana Lomba..

Setelah melalui 3 tahap (penyisihan, semifinal dan final), akhirnya didapat 3 tim yang menjadi juara 1, 2 dan 3 ajang ini. Juara ketiga datang dari SD Mahatma Gading tim A, atas nama Felicia Parman, Sharona Valezka dan Brenda Putri Maliki. Juara kedua  diraih kota Bogor, atas nama SD Pertiwi Bogor tim B dengan siswa-siswinya yaitu Salsabila Sarana, Abigail Engrasia dan Muhammad Farrasy. Dan yang paling menakjubkan adalah tim dari Jakarta Barat, SD Iman Pengharapan dan Kasih (IPEKA) yang diwakili oleh William Sumendap, Genison Bertholino dan Clarissa Angeline dengan guru pendampingnya, Ibu Dian Mailina.

Para pemenang

Para pemenang.. :)

Ketiga tim tersebut sukses melenggang ke final setelah mengalahkan tim-tim SD favorit lainnya se-Jabodetabek, seperti SD Don Bosco I dan SDIT Al Khairat. Pemenang CoMath sendiri mendapatkan hadiah berupa uang tunai, piala dan sertifikat. Juara 1 mendapatkan 1.5 juta, juara 2 mendapatkan 1 juta dan juara 3 mendapatkan 750 ribu. Banyak tanggapan dan kritikan yang diberikan peserta kepada kami sebagai panitia. Hal ini amat bermanfaat bagi kami, untuk penyelenggaran kegiatan-kegiatan kemahasiswaan lainnya. Sampai jumpa di Competition of Mathematics (CoMath) 2011!! :)

 

Para panitia (the one with the pink shirt is me!!)
Para panitia..

Poster dan Video ::

Para poster

 

Our Building::

Sampoerna School of Education Building
Jl. Tendean 88C
Jakarta Selatan
Tel                  : 021-5772275
Fax                 : 021-5772276
Email              : info@sampoernaeducation.ac.id
Website         : www.sf-teacher.org / www.sampoernaeducation.ac.id

Ketika saya duduk di bangku SMA, seorang guru Bahasa Inggris bertanya kepada saya, “Joe, what’s the meaning of your name?”. Kala itu saya tidak bisa menjawabnya, karena saya tidak tahu dan tidak pernah mencari tahu sebelumnya apa arti nama saya sebenarnya. Guru tersebut lalu meminta saya untuk bertanya kepada orangtua saya, apa makna dari nama saya sebenarnya.

Saya terkejut ketika mengetahui bahwa orangtua saya tidak memiliki maksud atau tujuan khusus dalam memberi nama saya. Mama saya hanya berkata, “Nama belakangmu ada karena mama ingin panggil anak mama dengan sebutan …, kalau nama depanmu,yaa bagus aja kedengarannya.” Yang tidak kalah mengejutkan tatkala mengetahui alasan mengapa nama marga saya tidak ada di akta kelahiran karena Bapak saya merasa nama marga bukan lagi sesuatu yang penting. Padahal, saya bangga sekali menyandang nama marga saya itu, di belakang nama asli saya.

Mengetahui fakta tersebut membuat saya tidak berminat untuk mencari tahu arti nama saya. Saya pun sama sekali tidak terlintas lagi untuk mengetahui apa sebenarnya arti nama saya. Sampai ketika saya menerima tugas ini beberapa hari lalu, barulah saya mencari tahu lagi apa arti nama saya.

Pencarian arti nama saya kali ini lagi-lagi mengejutkan saya. Saya menyerahkan sepenuhnya pencarian ini kepada Google (J), dan saya menemukan suatu situs yang memang memuat arti-arti nama. Nama depan saya, menurut situs tersebut, ternyata nama depan saya adalah nama Ibrani yang berarti pemberian dari Tuhan. Sungguh saya sangat terkejut mengetahui hal ini mengingat orangtua saya memberi nama ini tanpa tujuan tertentu, padahal arti nama ini ternyata begitu indah dan ‘berat’.

Ketika mengetahui hal ini, saya sempat merenungkan apakah arti nama ini sesuai dengan diri saya. Ternyata arti ini memang pas dengan apa yang terjadi di hidup saya. Ketika masih di kandungan, orangtua saya sempat melakukan beberapa tindakan aborsi, karena mereka merasa memiliki tiga anak saja sudah cukup. Namun karena saya tidak kunjung ‘lenyap’, orangtua saya sadar dan menyesal dan merasa bahwa anak ini memang pemberian Tuhan. Mereka merasa berdosa karena hendak menggugurkan anak yang Tuhan titipkan kepada mereka.

Di dunia ini, saya tidak percaya ada sesuatu hal yang terjadi secara tidak disengaja. Saya termasuk orang yang percaya bahwa Tuhan sudah menentukan sedetail apapun hal yang terjadi di hidup kita, dan segalanya pasti mempunyai makna. Oleh karena itu, saya merasa nama ini sangat pantas untuk saya. Tidak pernah terbersit di pikiran saya, baik sebelum mengetahui arti nama saya maupun sesudahnya, untuk mengganti nama saya dengan nama lain. Satu-satunya hal yang menjadi penyesalan saya adalah tidak adanya nama marga di akta kelahiran saya. Saya pun berjanji pada diri saya sendiri, bahwa saya akan menjadi “Pemberian dari Tuhan yang berharga dan bermanfaat”.

“Saya suka berjalan kaki jika beraktivitas, namun jujur saja saya merasa kurang nyaman. Saya merasa kurang nyaman karena banyak ruas trotoar yang dipakai sebagai lahan parkir, bahkan menjadi lahan untuk taman kota. Terkadang, jika malam hari trotoar sering dipakai untuk warga berjualan, seperti pecel ayam atau nasi goreng. Dan yang paling parah jika jalanan Jakarta macet, saya bingung harus berjalan di bagian mana, karena trotoar sendiri sudah penuh sedangkan kendaraan-kendaraan juga ramai karena macet.” keluh Daenuri, seorang mahasiswa di perguruan tinggi swasta di Jakarta.

Ya, mungkin apa yang dirasakan Daenuri tentang kondisi trotoar di kota Jakarta juga banyak dirasakan oleh sebagian besar masyarakat Metropolitan lainnya. Masalah-masalah yang ada di jalan-jalan trotoar ibukota, seperti manajemen sampah yang buruk atau maraknya warung yang dibangun di lintasan trotoar, membuat sebagian besar penduduk Jakarta enggan bepergian dengan berjalan kaki.

Seperti yang dimuat pada sebuah media elektronik, penggunaan trotoar juga menjadi topik pembahasan pada Governors Global Climate Summit 2 pada akhir bulan September, 2009 lalu, di Los Angeles, Amerika Serikat. Gubernur Negara Bagian Washington, Chris Gregoire, mengatakan bahwa perubahan dalam penggunaan lahan di kota-kota besar harus diubah. Pengaturan lahan yang baik hendaknya yang membuat jarak tempuh untuk bekerja atau beraktivitas menjadi lebih pendek. Kawasan tersebut umum dikenal dengan nama kawasan campuran atau “mix use”.

Jika jarak tempuh yang dibutuhkan lebih pendek, maka orang-orang dengan sendirinya akan lebih menyukai untuk berjalan kaki dan penggunaan kendaraan bermotor, yang notabene juga menyebabkan polusi udara, juga dapat dikurangi. Polusi udara, selain membuat orang-orang malas berjalan kaki, juga dapat menyebabkan penyakit kanker paru-paru dan tentu saja mempercepat terjadinya pemanasan global.

Masih berdasarkan sumber yang sama, Robert Cervero, pakar tata kota dari Universitas California Berkley, mengatakan perubahan pada prasarana transportasi juga dibutuhkan. Jalan khusus untuk pejalan kaki dan pengendara sepeda harus dibuat lebih lebar dan jalan untuk kendaraan bermotor dibuat lebih sempit atau mungkin dibuat jalur-jalur khusus, jika di Jakarta seperti jalur Busway.

Jika hal-hal tersebut bisa dilaksanakan, maka skema idaman pun akan bisa diwujudkan. Skema ini dimulai dengan penggalakkan gerakan jalan kaki sehingga mampu membuat kondisi lalu lintas yang ada lebih bersahabat dan manusiawi. Kondisi lalu lintas yang seperti itu niscaya dapat menurunkan tingkat emisi gas karbon dioksida di Jakarta. Sekedar info, penelitian terbaru menyatakan Jakarta ‘sukses’ menempati posisi ketiga sebagai kota dengan penyumbang emisi gas karbon dioksida terbesar di dunia. Dan, jika emisi gas karbon dioksida dapat ditekan sekecil mungkin, pemanasan global pun akan bisa lebih cepat dihentikan.

Namun, segala perubahan tata kota, penggunaan lahan, dan sebagainya tidak dapat membuat skema idaman tersebut dapat terwujud, jika tidak didukung kesadaran dari masyarakat itu sendiri. Tanggung jawab tidak bisa selalu saja dibebankan kepada pemerintah, tetapi juga harus menjadi tanggung jawab bersama semua warga pengguna jalan-jalan ibukota.

Jika kita perhatikan, ada banyak masalah-masalah yang bisa kita temui di jalan-jalan trotoar ibukota. Hal-hal seperti pembangunan warung atau tempat berjualan lainnya, manajemen sampah, bahkan penodongan dan tindakan kriminal lainnya yang kerap terjadi di jalan-jalan ibukota, adalah beberapa hal yang tidak bisa dipandang sebagai masalah sepele. Sehingga, untuk mengatasinya dibutuhkan perhatian dan kerja sama dari semua pihak yang terlibat di dalamnya.

Pemerintah, dalam kaitannya untuk mengatasi masalah-masalah di jalan-jalan trotoar ibukota, punya andil yang besar. Selain memperbaiki infrastruktur, hendaknya pemerintah juga membangun sejak dini kesadaran masyarakat untuk ikut menjaga ketertiban dan kenyamanan di jalan-jalan trotoar. Ada beberapa cara yang bisa dipakai pemerintah, seperti sosialisasi melalui iklan-iklan masyarakat, pemasangan rambu-rambu peringatan, pemberlakuan Peraturan Daerah, dan lain-lain.

Selain cara-cara tersebut, ada satu cara lagi yang paling mendasar dan harus dilakukan oleh pemerintah ibukota jika benar-benar ingin mengatasi masalah yang terjadi di jalan-jalan trotoar ibukota. Cara tersebut adalah pemberian pendidikan yang baik dan bermutu untuk masyarakat. Pendidikan menjadi hal yang mendasar, karena dibutuhkan kesadaran secara intelektual di kalangan masyarakat ibukota bahwa trotoar tidak bisa dialihfungsikan. Fungsi trotoar harus sesuai dengan ‘kodratnya’, yaitu sarana masyarakat untuk berjalan kaki dari suatu tempat ke tempat lain.

Jika upaya perubahan dan penggunaan tata kota dapat bersinergi dengan kesadaran dari masyarakat yang berpendidikan dan memiliki pemikiran maju, skema idaman pun akan semakin mudah diwujudkan. Masalah di jalan-jalan trotoar ibukota akan bisa dikurangi dan jalan kaki pun akan menjadi lebih nyaman. :) :)

Facebook, Friendster, Twitter, YouTube, dan lain-lain; siapa yang kurang familiar dengan nama-nama tersebut? Ya, nama-nama tersebut adalah beberapa contoh dari jejaring sosial yang ada di tengah-tengah masyarakat dunia saat ini, termasuk di Indonesia. Kebutuhan memiliki akun jejaring sosial bahkan menjadi sesuatu hal yang wajib bagi kebanyakan orang. Bahkan melalui survei yang saya dan rekan mahasiswa lain buat mengenai jejaring sosial, 92.73 % pemilih mengatakan bahwa penting bagi mereka untuk memiliki akun jejaring sosial. Lantas, apa fungsi yang bisa dikembangkan dari situs-situs jejaring sosial dalam rangka memaknai arti dan semangat juang  Sumpah Pemuda?

Sumpah Pemuda dibacakan di Jakarta, 28 Oktober 1928 silam pada Kongres Pemuda. Ada tiga nilai penting yang terkandung didalamnya; satu tanah air, satu bangsa dan satu bahasa persatuan. Pemuda-pemudi sangat bisa mengaplikasikan nilai-nilai Sumpah Pemuda tersebut dalam kehidupan jejaring sosial yang mereka miliki. Ada beberapa hal yang mungkin dilakukan pemuda-pemudi Indonesia dalam memaknai arti dan semangat juang Sumpah Pemuda melalui akun jejaring sosial mereka.

Pemuda-pemudi Indonesia mengaku  bertanah air satu, tanah air Indonesia. Ya, pemuda-pemudi Indonesia sangat bisa mewujudkan kecintaan mereka terhadap tanah air Indonesia melalui akun jejaring sosial. Dua mojang Bandung, Shinta dan Jojo, beberapa waktu lalu mendadak terkenal lewat video lip sync yang mereka buat. Video tersebut menjadi fenomenal setelah diunduh ke situs jejaring sosial (YouTube dan Kaskus) dan disaksikan oleh lebih dari dua juta pasang mata. Apa yang dilakukan Shinta dan Jojo sangat bermanfaat bila dilakukan pemuda-pemudi Indonesia untuk menunjukkan kecintaan mereka terhadap Indonesia. Bisa dibayangkan, dunia Internasional akan dihebohkan oleh ratusan bahkan ribuan video-video lip sync dari Indonesia. Bukan video biasa, karena lagu yang ditampilkan adalah lagu-lagu kebangsaan Indonesia, yang menunjukkan betapa besarnya kecintaan pemuda-pemudi Indonesia terhadap tanah air mereka.

Pemuda-pemudi Indonesia mengaku berbangsa satu, bangsa Indonesia. Bangsa Indonesia dikenal dunia Internasional sebagai bangsa yang kaya akan budaya dan kesenian lokalnya. Ada satu hal yang bisa dilakukan pemuda-pemudi Indonesia untuk melestarikan sekaligus mengembangkan budaya dan kesenian lokal bangsa Indonesia melalui situs jejaring sosial. Facebook dan Kaskus, selain menjadi tempat untuk berinteraksi, juga mulai dikenal dengan online shop-nya. Pemuda-pemudi Indonesia dapat menunjukkan rasa bangga terhadap bangsa Indonesia dengan berjualan dan membeli produk asli buatan asli Indonesia yang juga kental akan nuansa budaya dan kesenian lokal Indonesia. Niscaya, produk-produk tersebut akan laris di pasaran sekaligus menunjukkan kepada dunia Internasional, bahwa Indonesia memiliki pemuda-pemudi yang kreatif sekaligus cinta bangsanya sendiri. Budaya  dan kesenian lokal Bangsa Indonesia pun akan tetap terjaga kelestariannya.

Pemuda-pemudi Indonesia menjunjung bahasa persatuan, Bahasa Indonesia. Nilai ketiga yang ada di dalam teks Sumpah Pemuda ini juga sangat bisa  diaplikasikan melalui situs jejaring sosial. Dalam situs jejaring sosial Twitter, dikenal istilah Trending topics. Trending topics adalah 10 topik yang paling sering dibicarakan para pengguna Twitter. Pemuda-pemudi Indonesia tentu bisa menunjukkan kepada dunia bahwa negara ini memiliki suatu bahasa yang santun dan ramah. Cukup mencari satu topik pembicaraan yang positif dan dengan disertai tata cara penggunaan bahasa yang baik, dunia Internasional akan terkagum-kagum atas keindahan tata bahasa Negara Indonesia.

Video lip sync, Online shop dan Trending topics merupakan tiga hal yang paling menonjol dari dunia jejaring sosial saat ini. Memang, beberapa fakta mengindikasikan hal-hal tersebut lebih menjurus ke arah yang negatif. Namun, bila pemuda-pemudi Indonesia mampu mengaplikasikan semangat juang Sumpah Pemuda dalam aktivitas jejaring sosial mereka, hal-hal positif tentu akan sangat mudah didapatkan. Sumpah Pemuda pun tak sekedar diartikan melalui ucapan mulut belaka, tetapi dari sikap dan perilaku pemuda-pemudi Indonesia, bahkan dari aktivitas jejaring sosial mereka sekalipun. Maju terus pemuda-pemudi Indonesia!

-continue-

Competition of Mathematics (Comath) 2010, yang merupakan hasil kerja sama Senat Mahasiswa (SEMA) SSE dengan Math Club SSE di bawah naungan institusi STKIP Kebangkitan Nasional – Sampoerna School of Education, merupakan suatu kegiatan lomba cerdas cermat bagi siswa/i kelas 4-6 Sekolah Dasar (SD). Tema yang diambil, “Smart Inside Fun Outside”, merupakan bentuk upaya mahasiswa/i SSE dalam membuktikan kepada masyarakat bahwa Matematika bukanlah suatu pelajaran yang sulit dan ‘menyeramkan’, melainkan sebuah pelajaran yang menarik dan menyenangkan. :) :)

Comath 2010 akan diikuti oleh 27 tim, dimana setiap tim terdiri dari 3 siswa. Setiap tim wajib didampingi oleh satu guru pendamping dengan setiap sekolah maksimal mengirimkan 2 tim (tim kedua akan diposisikan menjadi tim cadangan). Pendaftaran dibuka sejak tanggal 9 Agustus 2010 dan akan ditutup pada 2 Oktober 2010. Formulir dilampirkan pada undangan dan disebarkan via email dan melalui blog resmi COMATH 2010 atau SEMA SSE. Peserta yang mendaftar wajib mengisi dan mengumpulkan formulir ke panitia pelaksana COMATH beserta menyetorkan uang pendaftaran sebesar Rp 100.000,00 di gedung SSE.

Rangkaian kegiatan COMATH 2010 (Technical Meeting dan kompetisi) akan dilaksanakan pada hari Sabtu, 23 Oktober 2010 pukul 07.00 – 15.30 WIB. Peserta wajib mengikuti Technical Meeting pada pukul 07.00 – 08.00 WIB (sekaligus registrasi ulang). Kegiatan ini pun seluruhnya dilaksanakan di gedung SSE.

Sisi fun, yang menjadikan COMATH 2010 berbeda dengan kompetisi cerdas cermat lainnya, akan sangat ditonjolkan di kompetisi ini. Soal yang akan diberikan merupakan soal-soal aplikatif Matematika pada kehidupan sehari-hari. Pembahasan soal pun akan dilakukan dengan cara/teknik yang lebih menarik dan berbeda dari kompetisi-kompetisi lain. Di luar area lomba juga akan dihiasi dengan game-game spesial yang berkaitan dengan ilmu Matematika serta bazaar-bazaar yang sesuai dengan kebutuhan para peserta.

So, tunggu apa lagi? Buruan daftar, tempat terbatas!!!! :) :)

Keterangan lebih lanjut (info-formulir pendaftaran-petunjuk teknis-dll) dimuat di blog resmi COMATH 2010 dan SEMA SSE.

Contact Person:

Faqih Al Adyan: faqih.adyan@sampoernaeducation.net

Jonathan Saputra: jonathan.saputra@sampoernaeducation.net


Visit our video on YouTube:

SSE Building:

Sampoerna School of Education Building
Jl. Tendean 88C
Jakarta Selatan
Tel                  : 021-5772275
Fax                 : 021-5772276
Email              : info@sampoernaeducation.ac.id
Website         : www.sf-teacher.org / www.sampoernaeducation.ac.id