“Mimpi adalah kunci untuk kita menaklukan dunia.”
Yup, kata-kata itu adalah salah satu kutipan dari sebuah film fenomenal di Indonesia, Laskar Pelangi. Kata-kata itulah yang menginspirasi saya untuk menulis tulisan ini. Mimpi! Marilah kita bermimpi!! Majukan bangsa Indonesia, wujudkan mimpimu dan raihlah!!!! Ayo pemuda-pemudi Indonesia!!!!!!
Oke, maaf ya pembukaan itu gajadi, rasanya terlalu berbunga bahasanya. Meskipun yeah, bener kok yang saya tulis seperti itu adanya.
Semasa SMA, mimpi saya adalah menjadi guru, dan apa yang saya jalanin sekarang adalah sepenggal langkah dari perwujudan mimpi saya itu.
Puji Tuhan saya dapet beasiswa dari suatu yayasan pendidikan dan sekarang saya berkuliah di salah satu universitas pendidikan terkemuka di Indonesia. (Apa? Mau tahu nama kampusnya? Cek di Facebook saya aja yaa..
)
Masa perkuliahan dimulai. Di semester pertama saya kuliah, muncul satu mimpi baru. Research assistant. Mimpi menjadi research assistant ini muncul karena ada ransangan dari suatu hal. Waktu itu, 2 dosen saya pergi mengikuti International Conference di Valencia, Spanyol. Selain ke Valencia, mereka juga mengunjungi kota-kota lain di Eropa. Yup, itu karena research mereka sesuai dan merupakan pengetahuan yang baru sehingga mereka bisa terpilih ke International Conference itu.
FYI, Spanyol adalah mimpi besar saya sejak dari bangku SD. Yup, saya engga tahu kenapa bisa ada nama Spanyol di otak saya sejak saat itu. Bahkan, ketika SMA saya sempat berkata akan masuk Universitas dengan jurusan Sastra Spanyol, sebelum saya sadar bahwa jurusan itu belum ada di Indonesia.
Saya ingin sama seperti mereka, pergi menginjak negeri orang karena kemampuan dan pengetahuan yang dimiliki. Apresiasi itu merupakan hal yang tentu ingin didapat oleh edukator manapun. Selain itu, nama Spanyol pun menambah ransangan terhadap mimpi ini. Lantas, bagaimana mewujudkannya? Research assistant. Apresiasi. Spanyol. Yoo, keep the dream alive!!!!
Saya menunggu dalam 2 tahun pertama, namun kesempatan itu tak datang juga. Medio Februari 2011 sebenarnya ada satu lowongan, namun saya sudah terlibat dalam project lain, meskipun project itu bukanlah tentang penelitian seperti yang saya impikan. Menunggu dan terus menunggu. Ya, akhirnya ada lagi lowongan research assistant pada akhir Juli 2011. Apresiasi. Spanyol. ‘Bau-bau’ itu semakin dekat rasanya di hidung saya. Voila!
Dengan semangat saya mengirim CV saya pada pihak berkaitan tentang lowongan asisten penelitian itu. Wow, hati saya dug dug dhuarr menunggu jawabannya. Untung saja tidak ada ninja-ninja negeri Konoha di sekitar saya saat itu. (Hubungannya apa? No, jangan tanya saya . :p)
Ada satu hal yang saya lupa pada saat itu. Tepatnya di pertengahan Juni, saya telah melamar posisi untuk menjadi tutor pembelajaran Matematika/IPA pada salah satu sekolah dasar swasta di Jakarta Timur. Dosen pembimbing saya kala itu menawarkan saya karena syarat yang saya sanggupi untuk posisi itu. Saya setuju dan sejenak lupa akan keinginan menjadi seorang research assistant.
Waktu berlalu. Terus berlalu. Berlalu dan berlalu. Akhirnya sang empunya waktu terlebih dahulu menjawab perihal tutorial daripada lowongan asisten penelitian. Jelas saya menyetujui project tutorial ini, ada tanggung jawab yang saya punya ketika melamar posisi ini. Rasanya picik, jika kala itu saya mundur karena menunggu jawaban suatu lowongan yang tak pasti pula apa jawabnya.
Tak lama, pengumuman posisi research assistant pun keluar. Tetot. Seperti yang saya duga, tak ada nama saya disitu. Saya tidak kaget dan tidak kecewa, karena memang peraturan menghendaki mahasiswa fokus terhadap satu project/internship/assistance saja.
Saya memang tidak kecewa dengan hasil yang ada. But down deep in my heart, I’m disappointed. Sudah satu setengah tahun saya ingin posisi itu. Ya, karena saya ingin menjadi seorang researcher. Saya ingin menginjak negeri orang karena pengetahuan saya, karena ilmu yang bisa saya bagikan pada mereka. Saya ingin ke Spanyol suatu hari, bukan untuk liburan tetapi karena penghargaan terhadap ilmu, kerja keras dan kemampuan saya. Ah, mimpi itu menguap. Cepat. Tiba-tiba. Tak tercegah.
Sampai suatu malam, saya sedang bersiap tidur. Di kasur saya terdapat satu buku renungan untuk saat teduh. Buku itu edisi lama, edisi April 2007. Iseng, saya mebuka renungan itu. Asal saja saya membukanya, lalu membaca renungan yang ada di dalamnya. Saya terhenyak.
Renungan itu menyatakan tentang cara Tuhan menjawab doa kita: Ya, Tidak, Tunggu Dulu. Singkatnya, kadang kita merasa bahwa jika apa yang kita maui itu tidak terjadi, berarti Tuhan tidak berkehendak dan tidak mengabulkan permintaan kita. Padahal ada jawaban yang ketiga: Tunggu Dulu.
Saya cepat merefleksikan ini terhadap apa yang sedang saya bebani. Ya, saya merasa bahwa impian saya menjadi seorang research assistant tertutup. Saya merasa bahwa peluang saya belajar menjadi seorang peneliti yang baik musnah. Ditambah lagi mulut-mulut orang yang sering berkata: “jarang loh ada kesempatan kedua, jangan disia-siakan.” Sedangkan saya? Saya menyia-nyiakan kesempatan kedua ini.
Malam itupun saya percaya, Tuhan pasti menyuruh saya menunggu. Kelak akan ada kesempatan serupa, untuk saat ini biarlah saya belajar menjadi guru yang baik. Mengajar di Sekolah Dasar jelas memiliki kesulitan tersendiri yang harus bisa saya hadapi. Kelak saya pasti akan bisa mendapat kesempatan belajar menjadi researcher yang baik, dengan atau tidak menjadi seorang asisten penelitian. Asal saya percaya, mengimaninya, dan berusaha mewujudkannya.

