an extraordinary Christmas

an extraordinary Christmas

atau klo orang batak bilang::
una Navidad extraordinaria
hihihihihhhi *peace*

hm,akhir2 ini gw suka merhatiin.,
belakangan ini natal dirayain dengan hal-hal yg kalo gw bilang sih biasa aja,
hal-hal umum,kaya menghias pohon natal, tuker2 kado, pake baju baru, dsb

tapi guys,
kita justru sering lupa 1 hal tentang natal,
padahal ini loh yg paling penting (setidaknya menurut gw) dari natal,

yaitu berbagi dengan sesama kita manusia..

banyak hal yg bisa dibagi dengan sesama kita,
kasih, pengharapan, sukacita, damai,
semua hal-hal lain yang udah Tuhan Yesus kasih buat kita..

kadang kita terlalu fokus ke hal2 yg gw sebutin pertama td,
dan gitu aja lupain hal yg gw sebutin kedua..

guys,
ini loh esensi natal yg sebenernya..
Tuhan Yesus ingin kita jadi pelaku firman,
Dia pengen kita nunjukin berkat-Nya yang MAHADAHSYAT ke kita,
dengan cara membaginya dngn orang2 lain..
ayo kita buat pengorbanan-Nya di kayu salib ga sia-sia!!
Feliz Navidad!!! Jesús le bendice..

n.b.: note ini hanya untuk berbagi apa yg saya rasakan mengenai Natal,
bukan untuk menggurui/maksud lain..
E.N.J.O.Y
hahahahahhahaaa

Lesson Plan – Constuctivist Approach (trigonometry)

Lesson Plan 1

Constructivist Approach

Name : Jonathan Saputra

ID : 2009110004

Subject : Mathematics

Chapter : Trigonometry

Grade level : 10th grade

Ю Goals

In this lesson students will understand how to operate the characteristics and the rules of trigonometry function in solving problems. Students also will understand how to use the algebra system in solving problems which have relation with trigonometry function. In this lecture, students expected to be able to solve problems with mathematics model which have relation with trigonometry function.

Ю Objectives

On successful completion of this topic, students will be able to:

  1. Understand and change the size of angle from degrees type into radians type and from radians type into degrees type
  2. Determine the number of sine, cosine and tangent on an angle in every situation
  3. Determine the number of an angle if the number of sine, cosine and tangent are known
  4. Use the formulas of sine and cosine on solving problems
  5. Understand the graph of sine, cosine and tangent function
  6. Draw the graph of trigonometry function with using Geogebra software
  7. Use the identity of trigonometry in solving problems
  8. Prove the identity of trigonometry and the formulas of sine and cosine
  9. Explain and solve problems which have relation with trigonometry
  10. Explain the solution of problems clearly

Ю Concept Map

Ю Activities

† Discuss

Students divided into some groups consist of five peoples to discuss together. The topic of the discussions:

  1. Students must find relations for trigonometry function θ and (180+θ), then fulfill the result for these questions :
    1. Sin (180+θ) = …
    2. Cosec (180+θ) = …
    3. Cos (180+θ) = …
    4. Sec (180+θ) = …
    5. Tan (180+θ) = …
    6. Cot (180+θ) = …
    7. Students must find relations for trigonometry function θ and (180+θ), then fulfill the result for these questions:
      1. Sin (180+θ) = …
      2. Cosec (180+θ) = …
      3. Cos (180+θ) = …
      4. Sec (180+θ) = …
      5. Tan (180+θ) = …
      6. Cot (180+θ) = …
      7. Students must use a special software, Geogebra, to sketch a graph y=sin 2x for 0≤x≤2π and describe the characteristics of graph y=sin2x
      8. Students must use a special software, Geogebra, to sketch another graphs:
        1. y= cos x-1
        2. y= 2 cos x
        3. y= 2 cos x+1

† Discussion’s Report

Every group should make a simple report based on the result of the discussion. The report should collect in word documents and answering these questions:

  1. What did your group learn from that discussion?
  2. What did your group learn from using software, like Geogebra?
  3. How could your group find the result of every question in that discussion?

Ю Assessment

† Presentation 1 (Tricks or Simplest Ways)

Students divided into some group consist of five peoples to make a presentation. Every group should make their own tricks or simplest ways to solve some trigonometric problems.

For example:

Simplest way to remember how to find sine, cosine and tangent is :

♠ Sine = De-Mi = Depan/Miring = a/c

♣ Cosine = Sa-Mi = Samping/Mirin = b/c

♥ Tangent = De-Sa = Depan/Samping = a/b

The requirements of the presentation are:

~ should be related with the topic

~ should mentioning the source of that ways or tricks

~ should consist of minimum three ways or tricks

~ should make in a multimedia presentation (e.g. power point, movie maker, etc)

† Presentation 2 (Online Materials)

Students divide into some group consist of three peoples to make a presentation. Every group should search online materials; which does not similar with in the textbook.

The requirements of the presentation are:

~ should be related with the topic

~ should mentioning the source of that online materials

~ should explain the benefits and the usages of that online materials

~ should make in a multimedia presentation (e.g. power point, movie maker, etc)

† Games

Students divide into some group consist of ten peoples to make a game. Every group should make a different game.

The requirements of the game are:

~ should be related with the topic

~ should be an original game (no copying and plagiarism)

~ should show the effect of that game into learning skills

~ should present in the front of the class (e.g. power point, movie maker, etc)

† Reflection Paper

For the last assessment, every student should make a paper which reflects their feeling after studying trigonometry, with requirement:

~ The reflection paper should be collected on word document

~ The reflection paper should be related into the topic

~ Reflect the differences in using or not using software

† Grade and Percentage

Assessment Type Percentage
Presentation 1 Group ( five peoples) 30%
Presentation 2 Group ( three peoples) 30%
Game Group ( ten peoples) 30%
Reflection Paper Individual 10%

Ю Resources

Johanes, Kastolan and Sulasim. 2005. Kompetensi Matematika. Jakarta : Yudhistira

Alders, C.J. 1987. Ilmu Aljabar. Jakarta : Pradnya Paramita

Material 1: pakrudi.files.wordpress.com/2007/12/trig-tek.doc

Material 2: http://pdfdatabase.com/index.php?q=bahan+ajar+trigonometri

unspoken love

unspoken love,
cinta yg tak bisa diungkapkan..

one of the most complicated case in love..
when u fall in love with someone..
maybe with the wrong person,
or in a wrong situation..
yg bkin qta ga bs blng ap2,atw brbuat ap2 untk orang yg qta sayang itw..

qta cuma bs ad d samping’y,
mungkin jadi sahabat’y,
ataupun jadi saudara’y,
apapun itw,tapi bukan orang yg dy cintai..

but that’s unspoken love,
mski tau bukanlah cinta,reward yg qta dapet..
tp qta tetep akan lakuin apapun.,
asal bisa ngebuat dia bahagia.,

karna bwt yg alamin unspoken love pasti tau,
ga da yg lebih membahagiakan lg drpda melihat orang yg qta cintai itw tersenyum bahagia..

EP’s journal (adolescent)

A.      Peristiwa di Masa Kecil

Bronfenbrenner (1995, dalam Santrock, 2009) pada teori ekologikalnya membagi faktor yang mempengaruhi perkembangan menjadi 5 faktor. Adapun faktor yang pertama dikenal dengan faktor mikrosistem. Faktor ini menjelaskan bahwa lingkungan keluarga, sekolah, teman, tetangga, dan lain-lain sangat berpengaruh bagi perkembangan diri seseorang.

Saya sependapat dengan teori Bronfenbenner tersebut, karena masa remaja saya amat dipengaruhi oleh hal-hal yang berhubungan dengan lingkungan. Khususnya kejadian yang terjadi di keluarga saya pada waktu saya masih kecil.

Kejadian itu terjadi pada tahun 2002, saat itu saya belum genap berumur 11 tahun dan masih duduk di kelas 6 SD. Tepatnya pada tanggal 21 Oktober 2002, bapak saya meninggal dunia. Pada awalnya saya tidak merasa suatu perubahan berarti, saat itu seakan-akan bapak saya hanya pergi ke suatu tempat untuk sementara. Namun seiring berjalannya waktu, saya semakin dewasa dan semakin sadar akan sesuatu yang kurang setelah bapak saya tidak ada. Sedikit-banyak hal ini amat mempengaruhi masa remaja saya, tentang bagaimana saya menjalani masa remaja saya tanpa sosok bapak yang sebenarnya. Saya akan menjelaskan masa remaja saya dan hal-hal yang penting dan berpengaruh selama menjalani masa tersebut.

B.      Masa SMP

SMP bagi sebagian orang, termasuk saya sendiri, adalah masa peralihan dari masa kanak-kanak ke masa remaja secara alami. Selayaknya remaja normal, saya pun mengalami perubahan-perubahan, yaitu perubahan biologis, cara berpikir dan interaksi sosial. Yang paling terlihat jelas adalah perubahan biologis yaitu puber. Beberapa perubahan seperti perubahan suara saya, badan saya yang semakin besar, jerawat-jerawat yang mulai tumbuh sampai mimpi basah juga saya alami. Beruntung, pada saat itu saya tidak sendirian mengalaminya. Hampir semua teman sebaya saya, baik yang di sekolah maupun di lingungan tetangga saya juga mengalaminya. Jadi saya tidak perlu beradaptasi khusus. Mama saya juga banyak memberi penjelasan mengenai perubahan-perubahan yang saya alami.

Meskipun begitu, perubahan fisik yang saya alami juga berdampak pada kondisi emosional saya. Perubahan fisik yang saya alami mengakibatkan emosi saya menjadi tidak stabil. Saya menjadi sosok yang terlalu sensitif dan mudah tersinggung jika ada sesuatu hal yang berkaitan dengan perubahan fisik saya. Sebagai contoh, saya sering marah pada abang saya karena dia suka bercanda dengan mengolok-olok wajah saya yang mulai tumbuh jerawat. Secara emosional juga saya sudah mulai mengalami ketertarikan kepada lawan jenis. Saya mengalami apa yang orang bilang cinta monyet dengan teman-teman wanita saya.

Selain berpengaruh pada emosional, perubahan fisik juga berdampak pada interaksi sosial saya dengan lingkungan. Di sekolah, saya kadang merasa minder jika bertemu dengan teman-teman wanita, apalagi yang saya suka. Padahal hampir semua teman laki-laki saya mengalami hal yang serupa, tapi saya tetap kadang masih merasa malu pada teman wanita. Hal ini terjadi sampai saya terbiasa dan memahami perubahan-perubahan fisik yang saya alami, dan itu tidak membutuhkan waktu yang cukup lama.

Di samping mengalami perubahan fisik, saya juga mengalami perubahan pola pikir dan interaksi sosial pada masa transisi saya. Hal ini banyak terjadi saat saya kelas 2 SMP. Masa saya kelas 2 SMP adalah masa-masa penuh kenakalan, berbeda dengan masa saya kelas 1 SMP. Pada kelas 1 saya bertemu dengan teman-teman yang baik dan alim, sedang di kelas 2 saya bertemu dengan yang nakal. Kohlberg (1984, dalam Eggen & Kauchak, 2010) menjelaskan pada tahap-tahap perkembangan moral bahwa pada tahap yang ketiga seseorang bergantung pada loyalitas, pandangan orang lain kepada kita dan suara mayoritas. Itu yang saya alami sewaktu kelas 2 SMP. Akan tetapi saya tidak sependapat dengan teori tersebut. Kohlberg selanjutnya menjelaskan bahwa di tahap ketiga dan keempat itu terjadi pada kisaran umur 10-13 tahun. Saya tidak mengalami hal yang serupa. Pada kisaran umur 10-13 tahun saya belum terfokus pada suara mayoritas yang ada di lingkungan saya. Saya masih berharap balasan akan apa yang saya perbuat pada orang lain (tahap dua) atau bahkan saya masih suka menuruti peraturan hanya karena takut hukuman (tahap satu), bukan karena keasadaran (tahap empat). Tahap ketiga baru saya alami setelah kelas 2 SMP karena faktor lingkungan permainan yang menjadi sangat penting pada saat itu.

Saya ikut-ikutan dengan lingkungan kelas saya menjadi anak yang nakal. Suka membolos, makan di kelas pada jam pelajaran, terlambat, dan semua kenakalan-kenakalan remaja lainnya. Hal itu saya lakukan demi bisa mengikuti pergaulan di sekitar saya. Para peneliti di bidang psikologi perkembangan membagi status pertemanan menjadi lima : terkenal, terabaikan, terbuang, biasa-biasa saja dan kontroversial. Saya pun pada saat itu mendapat status sebagai anak terkenal dan kontroversial. Namun, status itu saya dapat bukan karena kelakukan baik, tetapi karena kenakalan.

Kenakalan-kenakalan saya pada masa itu memuncak ketika saya diajak merokok oleh teman-teman sekelas saya. Sebelumnya hanya saya yang tidak merokok antara mereka. Sayapun nyaris terjerumus pada dunia rokok jika tidak terjadi suatu masalah di keluarga saya.

Pada tahun 2005, perusahaan tempat mama saya bekerja bangkrut. Hal itu membuat mama saya stres karena kehilangan pekerjaan yang sudah dilakukannya lebih dari 20 tahun. Keluarga kami kembali goyah. Pada saat kami sedang berjuang bangkit selepas ditinggal bapak kami, persoalan lain justru datang menghampiri. Pada saat itu abang saya yang paling tua dan kakak perempuan saya nomor tiga serta saya masih sekolah.

Tetapi hal itu tidak membuat mental saya jatuh atau rendah diri. Pengalaman yang lebih buruk yang pernah saya alami ketika bapak saya meninggal membuat mental saya jauh lebih kuat dari umur saya. Saya justru lebih banyak menghibur dan menguatkan mama saya. Kami percaya bahwa Tuhan bersama-sama dengan kami untuk melewati masalah ini.

Kejadian ini ternyata sanggup memberi dampak positif bagi kehidupan saya pada saat itu. Saya tidak lagi menjadi anak yang nakal seperti sebelumnya. Saya kembali menjadi anak baik-baik seperti saya di kelas 2 SMP. Puji Tuhan, meskipun saya tidak mau lagi menjadi anak nakal, teman-teman sekelas saya tetap mau bergaul dengan saya dan tidak menjauhi atau mencemooh saya. Setelah kejadian itu saya berada pada tahap keempat perkembangan moral berdasarkan teori Kohlberg (1984, dalam Eggen & Kauchak, 2010), yaitu saya sudah mampu untuk menentukan sesuatu hal benar atau salah sesuai pengalaman yang sudah saya alami. Meskipun saya lagi-lagi tidak sependapat dengan teori Kohlberg tersebut, karena saya mengalami fase itu lewat dari kisaran umur yang dibuat Kohlberg, yaitu 10-13 yahun.

Perubahan saya setelah kejadian itu berbuah manis, di kelas 3 SMP prestasi saya di kelas meningkat. Saya kembali masuk 3 besar di kelas dan nilai-nilai saya menunjukan perubahan signifikan. Saya pun akhirnya sukses masuk SMA Negeri 1, SMA terbaik di Kota Tangerang. Hal itu memberi suatu kebanggaan tersendiri bagi keluarga saya, terlebih orangtua saya.

Secara keseluruhan saya menilai masa SMP saya sebagai sebuah masa transisi dari kanak-kanak menuju remaja. Sesuai dengan apa yang dikatakan oleh  Santrock (2008) yang membagi fase remaja menjadi 2, masa awal remaja dan masa akhir remaja. Apa yang saya alami ketika SMP adalah masa awal remaja, yang ditandai dengan banyaknya perubahan yang saya alami dan seringnya saya mencoba hal-hal baru. Puji Tuhan, ketika itu saya tepat waktu untuk kembali ke jalur yang benar. Ketiadaan sosok bapak juga menuntut saya untuk menjadi lebih mandiri dan dewasa semenjak SMP, namun perkembangan pola pikir tersebut lebih banyak saya alami kelak di SMA.

C. Masa SMA

Bapak peneliti masa remaja, yaitu G. Stanley Hall (1904, dalam Santrock, 2008) memberikan pandangannya mengenai remaja. Dia mengatakan bahwa masa remaja adalah masa yang penuh gejolak. Hall (1904, dalam Santrock, 2008) menjelaskan teorinya itu sebagai suatu bentuk gambaran mengenai remaja sebagai masa dengan saat-saat yang penuh gejolak dan disertai perubahan mood dan beragam konflik, baik itu konflik pribadi maupun dengan lingkungan sekitar.

Memasuki masa SMA, saya semakin menemukan kesamaan tentang apa yang saya alami dengan teori yang dikemukakan Hall. Saya juga mengalami perubahan-perubahan kecil. Terkadang saya merasa ingin diperhatikan, kadang saya ingin keluar dari perhatian sekitar. Kadang sedih, kadang senang. Kadang senang berkumpul berkumpul dengan teman, kadang benci melihat mereka berkumpul. Hal itu berlangsung, tapi tidak untuk waktu yang lama. Banyak hal yang terjadi semasa SMA yang membuat saya menjadi sosok yang lebih dewasa dibanding teman-teman sekitarnya.

Di awal tahun 2007, saat itu saya masih kelas 1 SMA, kejadian pahit kembali menimpa keluarga saya untuk kesekian kalinya. Abang tertua saya ditangkap polisi. Dia ditangkap karena kedapatan sedang membawa narkoba. Setelah diusut, ternyata abang saya bukan seorang pemakai narkoba, melainkan hanya sekedar kurir pengantar narkoba. Namun hal itu tidak membuat abang saya bebas dari hukuman atas apa yang dilakukannya. Dia divonis 1 tahun oleh pengadilan atas kesalahannya.

Kejadian ini tak pelak menampar muka keluarga saya, khususnya mama saya. Mama saya sampai mengalami depresi berat. Mama sampai sempat tidak mau keluar rumah, padahal tidak ada yang tahu kejadian itu selain keluarga dekat.

Seperti ketika dulu saat mama saya ditinggal pergi ayah saya untuk selama-lamanya, atau saat mama saya kehilangan pekerjaannya, saat ini saya juga dituntut untuk bersikap lebih dewasa dan bijaksana. Butuh waktu lama untuk membangun kepercayaan diri mama saya lagi. Puji Tuhan, kali ini mama saya lebih mudah bangkit dari sebelumnya dan sanggup menghadapi cobaan ini.

Setelah kejadian ini, saya semakin matang dalam menghadapi masalah. Saya bukan lagi anak yang setiap ada masalah selalu meminta bantuan tanpa usaha sendiri atau bahkan lari dari masalah tersebut. Pola pikir saya sudah semakin berkembang dan mental saya semakin kuat dalam menghadapi masalah-masalah, besar atau kecil, yang kelak akan datang. Saya melihat ini sebagai sesuatu hal yang positif. Jika dikaitkan dengan apa yang dikatakan oleh Arnett & Tanner (2006, dalam Santrock, 2009) bahwa peralihan dari masa remaja menuju masa dewasa adalah suatu hal yang penting. Saya semakin dekat dengan fase peralihan dari remaja menuju dewasa yang ditandai dengan perubahan situasi sosial dan pengalaman-pengalaman. Hal itu merupakan hal yang penting dalam kehidupan kita.

Ada satu kejadian lain di tahun 2007 yang mempengaruhi kehidupan saya. Ketika itu saya ada di penghujung kelas 1 SMA. Namun, kejadian ini tidak berlangsung di lingkungan sekolah, melainkan di lingkungan gereja. Sebagai seorang yang beragama Kristen Protestan, saya wajib untuk mengikuti apa yang dinamakan dengan Katekisasi. Katekisasi adalah suatu proses pendewasaan seorang beragama Kristen Protestan untuk dinyatakan dewasa. Dewasa dalam sudut pandang agama, bukan sudut pandang dunia. Katekisasi juga sebagai suatu syarat jika ingin melanjutkan hidup ke jenjang pernikahan. Setelah lulus katekisasi, nantinya akan diberi satu ayat alkitab. Ayat ini yang akan dijadikan pedoman seorang kristiani dalam menjalani hidup.

Ayat alkitab yang saya peroleh setelah katekisasi adalah Amsal 4:13 = ”Berpeganglah pada didikan, janganlah melepaskannya, peliharalah dia, karena dialah jalan hidupmu.” Ayat inilah yang menjadi pedoman atau pegangan hidup saya untuk memilih menjadi seorang guru. Saya merasa bahwa inilah panggilan hidup saya, untuk mejadi seorang guru. Saya percaya bahwa Tuhan mempunyai rencana indah untuk saya.

Bronfenbenner (1995, dalam Santrock, 2009) pada teori ekologikalnya menyatakan pada faktor lingkungan kedua (mesosistem) terjadi hubungan atau korelasi antara faktor-faktor pada tahap mikrosistem. Sebagai contoh, hubungan antara keluarga dan pergaulan sebaya, atau hubungan antara keluarga dengan lingkungan sekolah, dan lain-lain. Ia berpendapat bahwa faktor-faktor tersebut saling mempengaruhi satu dengan yang lain, juga saling mempengaruhi pada perkembangan diri seseorang.

Saya sependapat dengan tahap mesosistem tersebut, karena saya sendiri mengalami dampak dari hubungan-hubungan tersebut yang saling berkorelasi. Kejadian yang menimpa keluarga saya (abang saya masuk penjara) dan proses pendewasaan diri saya dalam sudut pandang agama mempengaruhi aktifitas-aktifitas saya di sekolah. Begitu saya naik kelas 2 SMA, saya memutuskan untuk maju menjadi ketua persekutuan kerohanian di sekolah saya.

Saya tidak main-main dengan keputusan saya ini, saya tidak maju hanya karena ingin jabatan atau ingin dilihat orang sebagai sosok yang hebat karena menjadi ketua. Saya maju karena kerinduan saya untuk melayani Tuhan. Setelah setiap masalah yang saya hadapi, saya merasa saya perlu dan butuh untuk melayani Tuhan lebih lagi. Menjadi ketua kerohanian, apapun itu agamanya, bukanlah suatu posisi yang mudah. Kita memiliki beban untuk bagaimana membawa teman-teman kita ke taraf kedekatan dengan Tuhan yang lebih baik lagi.

Karena itulah, saya pun sempat merasa bimbang dan tidak pantas untuk maju. Sehingga saya memutuskan berkomunikasi dengan orangtua saya. Jika mengacu pada Baumrind (1971, dalam Santrock, 2009) yang mengklasifikasikan pola asuh orangtua menjadi 4 tipe, saya menganggap orangtua saya memakai cara asuh yang autoritatif. Orangtua saya tidak pernah mengekang atau memaksa saya akan sesuatu hal, tetapi mereka memberi saya kebebasan asal saya bisa mempertanggungjawabkannya. Mereka juga selalu ada jika saya membutuhkan saran atau nasihat mereka. Ketika saya meminta saran mama mengenai niat saya untuk maju menjadi ketua persekutuan di sekolah, mama saya memberi dukungan penuh kepada saya. Beliau juga memberi tahu dampak-dampak apa yang kelak mungkin akan saya hadapi, baik itu positif maupun negatif. Mengenai keputusan akhir mereka menyerahkan sepenuhnya ke tangan saya. Berdasarkan kenyataan pada keluarga saya, saya sependapat dengan Epstein (2007, dalam Santrock, 2009) dan Schader (2008, dalam Santrock, 2009) yang menyatakan bahwa setiap orangtua mempunyai peran penting untuk mendukung dan mengembangkan prestasi anak dan perilakunya di sekolah.

Setelah mempertimbangkan keputusan saya dan dibawa dalam doa, akhirnya saya memutuskan untuk maju menjadi calon ketua. Hasilnya saya kalah dan hanya menjabat posisi wakil ketua. Hal itu saya syukuri karena ini adalah yang terbaik yang Tuhan berikan kepada saya untuk melayani-Nya. Selama setahun saya menjabat sebagai wakil ketua, saya merasakan banyak sekali manfaat bagi hidup saya. Saya semakin dekat dengan Tuhan dan saya makin kuat dalam menghadapi masalah-masalah. Hal yang paling baik menurut saya adalah, saya belajar untuk melakukan sesuatu yang terbaik yang saya bisa dan menyerahkan kepada Tuhan mengenai hasilnya, karena hanya Dia yang tahu apa yang terbaik untuk kita.

Hal-hal yang saya alami selama masa SMA membuat saya kuat secara mental dalam menghadapi masa-masa ujian kelas 3. Saya lulus UAN dengan nilai tinggi dan sanggup mencapai target saya yang saya buat pada saat itu, yaitu mendapatkan beasiswa keguruan. Sebelum diterima di Sampoerna School of Education, saya pernah gagal masuk beasiswa Teacher College dari Universitas Pelita Harapan. Tetapi saya tidak menyerah dan terus menaruh pengharapan pada Tuhan, dan Tuhan menjawab doa saya dengan amat luar biasa.

Secara keseluruhan, saya melihat masa SMA saya sebagai masa transisi juga. Tetapi bukan dari kanak-kanak menjadi remaja, melainkan dari remaja menuju tahap dewasa. Tidak ada lagi sikap coba-coba dan sembarangan bertindak seperti dulu SMP. Dalam perkembangan moral, secara garis besar masa SMA saya sudah ada pada tahap kelima menurut teori pengembangan moral Kohlberg (1984, dalam Eggen & Kauchak, 2010). Karena saya sudah lebih memperhatikan hak dan kepentingan orang lain, mulai mengkritisi sesuatu hal yang terjadi di sekitar saya dan mulai menghargai komitmen-komitmen yang saya buat, baik itu pribadi maupun dengan orang lain. Masa SMA saya juga banyak dihiasi dengan pendekatan personal saya dengan Tuhan, yang membuat saya menjadi sosok yang lebih baik dari sebelumnya. Pada saat SMA saya baru benar-benar tahu bahwa kepergian bapak saya pada saat saya masih kecil ternyata memiliki efek positif juga untuk saya, karena saya tumbuh menjadi anak yang lebih tahan banting daripada teman-teman saya yang lain yang masih memiliki orang tua yang lengkap.

D. Kesimpulan

Para peneliti psikologi perkembangan mendefinisikan masa remaja sebagai suatu masa yang berada diantara masa kanak-kanak dan masa dewasa. Hal ini ditandai dengan perubahan fisik, pola pikir dan interaksi sosial.

Masa remajapun dapat dibagi menjadi 2 bagian, masa awal remaja dan masa akhir remaja. Masa awal remaja, yaitu masa-masa SMP saya yang banyak diwarnai dengan sifat saya yang masih suka mencoba hal-hal baru dan beradaptasi. Pada masa remaja akhir tersebut saya mengembangkan pola pikir dan tingkah laku saya menjadi lebih matang dan dewasa.

Elder & Shanahan (2006, dalam Santrock, 2008) menyatakan bahwa masa remaja adalah bagian dari perjalanan hidup yang tidak terpisahkan dari proses pengembangan. Baltes, Lindenberger & Staudinger (2006, dalam Santrock, 2008) serta Schale (2007, dalam Santrock, 2008) menyatakan bahwa perubahan itu tidak berhenti di masa remaja. Saya sependapat dengan pendapat mereka, karena sepanjang hidup kita akan terus mengalami perubahan-perubahan dengan masa remaja sebagai bagian terpenting yang tak terpisahkan dari perjalanan tersebut.

Himpunan (sets)

Himpunan

adalah gabungan dari beberapa hal yang memiliki kesamaan.

contoh:

X = {1, 2, 3}

Y = {3, 4, 5}

Himpunan yang Sama (equal set)

adalah dua himpunan yang memiliki anggota sama persis.

contoh:

A = {1, 2, 3} dan B = {3, 1, 2}

maka, A=B

Korespondensi Satu-satu (One-one Correspondence)

2 buah himpunan dikatakan korepondensi satu-satu jika setiap elemen anggota’y dipetakan satu ke elemen lain di himpunan lain, tidak ada yang tidak dipetakan atau dipetakan lebih dari satu.

gambar:

09101518181500

Himpunan Ekuivalen (Equivalent Sets)

Jika 2 himpunan adalah korespondensi satu-satu,maka kita bisa sebut juga sebagai himpunan ekuivalen. Simbolnya A~B.

Diagram Venn

mengandung himpunan universal dan himpunan-himpunan lain.

gambar:

09101518183200

Himpunan Kosong (The Empty Sets)

Jika tidak mengandung elemen,maka himpunan tersebut dikategorikan himpunan kosong. Simbolnya yaitu { }.

Komplemen (Complement)

Adalah semua elemen yang bukan merupakan elemen dari himpunan tersebut.

gambar:

09101518191700

Himpunan Bagian (Subsets)

Jika salah satu himpunan, semua elemennya ada di dalam himpunan lain.

09101518193200

Irisan (Intersection of Sets)

Jika suatu himpunan memiliki anggota yg sama dengan himpunan lain.

simbol : A n B

gambar :

09101518194400

Himpunan Lepas ( Disjoint Sets)

Jika A n B tidak memiliki elemen yang sama.,maka dikategorikan sebagai himpunan lepas.

Gabungan (Union of Sets)

Adalah gabungan semua elemen dari kedua himpunan.

simbol : A u B

gambar:

09101518221000

Beda ( Set Difference)

Jika ada 2 himpunan (A dan B). Lalu A-B adalah elemen dari himpunan tersebut bahwa hanya ada di A tidak ada di B.

gambar :

09101518245800

itu dia serba-serbi dari himpunan.

maaf ya kalo gambarnya jelek dan kata2nya kurang bisa dipahami..

hehehe

untuk set identities dan soal2.,

tunggu posting selanjutnya ya..hehe

best regards_GBu

online dictionary

Kalau menacari layanan kamus online di internet buka aja ::

bf_med http://babelfish.yahoo.com/

semua bahasa ada.,

dari english -> japanese

sampai french-> russian juga ada..

selamat mencoba ya…

ehehehe

Cacingan Merampas Kecerdasan Anak

img

(Foto: actionintl.org)

Jakarta, Cacingan sampai saat ini masih dianggap sebagai penyakit tidak elit dan sering disepelekan. Cacingan juga kerap dianggap penyakit jorok atau penyakit golongan sosial ekonomi rendah. Tapi jangan salah, penyakit ini bisa menimpa siapa saja. Parahnya, cacingan juga bisa merampas kecerdasan anak.

Cacingan adalah penyakit yang mudah menular. Faktor penyebabnya antara lain yaitu iklim tropis yang lembab, kepadatan penduduk yang tinggi, sanitasi yang buruk, tinja yang dijadikan pupuk di kebun, kurangnya pengetahuan masyarakat dan kondisi tanah (liat, humus).

Disela-sela acara seminar ‘Bagaimana Membentuk Seorang Anak yang Sehat, Cerdas dan Berkualitas’ yang digelar di Gedung IASTH FKUI, Sabtu (10/10/2009), Dr. dr. Rini Sekartini, SpA mengatakan penyakit cacingan bisa menyebabkan anak 5 L yaitu lemah, letih, loyo, lalai, lemas.

Anak yang kena cacingan pun akan menjadi sangat rentan sakit, kurang gizi, hepatitis, rabun mata dan kecerdasan menurun. Suatu survei menunjukkan bahwa 60 hingga 80 persen penduduk Indonesia terkena cacingan, dan 90 persennya adalah anak-anak SD.

Cacingan pada anak bisa diakibatkan oleh berbagai jenis cacing tambang (Ascaris lumbricoides, Necatur americanus, Ancylotoma duodenale), cacing cambuk (Trichuris trichiura), cacig gelang dan beberapa jenis spesies lainnya.

Mengajarkan anak hidup bersih adalah kuncinya. Kebiasaan anak yang makan tanpa cuci tangan atau bermain-main dengan tanah bisa menyebabkan telur-telur cacing tertelan atau masuk ke dalam usus halus dan usus besar kemudian berkembang menjadi larva dan cacing dewasa.

Gejala yang paling sering muncul pada anak cacingan adalah masalah pencernaan seperti nafsu makan berkurang, mual, diare atau sulit buang air besar (konstipasi), penurunan berat badan dan juga menurunkan kecerdasan anak.

“Hal ini terjadi karena cacing merusak mukosa (dinding) usus dan mengambil zat-zat gizi yang berasal dari makanan sehingga anak dapat mengalami gangguan absorbsi makanan bahkan malnutrisi. Kurangnya asupan nutrisi pada anak kemudian akan mengganggu perkembangan sel-sel tubuh, termasuk sel otak. Akibatnya, kecerdasan anak tidak akan berkembang bahkan cenderung menurun,” jelas Rini.

Penyakit lain yang bisa muncul akibat cacingan antara lain anemia, TBC dan malaria. Akibat penyakit cacingan kronis dan kekurangan zat gizi, pertumbuhan anak menjadi terganggu termasuk juga perkembangan motorik, bahasa dan kepandaian (kognitif).

Oleh karena itu, Rini menyarankan agar orang tua mengajarkan pada anak untuk membiasakan hidup bersih dengan mandi dan cuci tangan teratur, bermain menggunakan alas kaki dan rutin memotong kuku. Selain itu, orang tua juga harus memutuskan daur hidup cacing dengan cara mencuci sayuran dengan benar, tidak memakai pupuk tanaman yang dicampur kotoran manusia dan memasak makanan sampai matang.

Rekomendasi Obat

img

ZINKID

www.indofarma.co.id

sumber :: http://health.detik.com/read/2009/10/11/100102/1219306/764/cacingan-merampas-kecerdasan-anak?993306755

Cacingan juga kerap dianggap penyakit jorok atau penyakit golongan sosial ekonomi rendah. Tapi jangan salah, penyakit ini bisa menimpa siapa saja. Parahnya, cacingan juga bisa merampas kecerdasan anak.

Cacingan adalah penyakit yang mudah menular. Faktor penyebabnya antara lain yaitu iklim tropis yang lembab, kepadatan penduduk yang tinggi, sanitasi yang buruk, tinja yang dijadikan pupuk di kebun, kurangnya pengetahuan masyarakat dan kondisi tanah (liat, humus).

Disela-sela acara seminar ‘Bagaimana Membentuk Seorang Anak yang Sehat, Cerdas dan Berkualitas’ yang digelar di Gedung IASTH FKUI, Sabtu (10/10/2009), Dr. dr. Rini Sekartini, SpA mengatakan penyakit cacingan bisa menyebabkan anak 5 L yaitu lemah, letih, loyo, lalai, lemas.

Anak yang kena cacingan pun akan menjadi sangat rentan sakit, kurang gizi, hepatitis, rabun mata dan kecerdasan menurun. Suatu survei menunjukkan bahwa 60 hingga 80 persen penduduk Indonesia terkena cacingan, dan 90 persennya adalah anak-anak SD.

Cacingan pada anak bisa diakibatkan oleh berbagai jenis cacing tambang (Ascaris lumbricoides, Necatur americanus, Ancylotoma duodenale), cacing cambuk (Trichuris trichiura), cacig gelang dan beberapa jenis spesies lainnya.

Mengajarkan anak hidup bersih adalah kuncinya. Kebiasaan anak yang makan tanpa cuci tangan atau bermain-main dengan tanah bisa menyebabkan telur-telur cacing tertelan atau masuk ke dalam usus halus dan usus besar kemudian berkembang menjadi larva dan cacing dewasa.

Gejala yang paling sering muncul pada anak cacingan adalah masalah pencernaan seperti nafsu makan berkurang, mual, diare atau sulit buang air besar (konstipasi), penurunan berat badan dan juga menurunkan kecerdasan anak.

“Hal ini terjadi karena cacing merusak mukosa (dinding) usus dan mengambil zat-zat gizi yang berasal dari makanan sehingga anak dapat mengalami gangguan absorbsi makanan bahkan malnutrisi. Kurangnya asupan nutrisi pada anak kemudian akan mengganggu perkembangan sel-sel tubuh, termasuk sel otak. Akibatnya, kecerdasan anak tidak akan berkembang bahkan cenderung menurun,” jelas Rini.

Penyakit lain yang bisa muncul akibat cacingan antara lain anemia, TBC dan malaria. Akibat penyakit cacingan kronis dan kekurangan zat gizi, pertumbuhan anak menjadi terganggu termasuk juga perkembangan motorik, bahasa dan kepandaian (kognitif).

Oleh karena itu, Rini menyarankan agar orang tua mengajarkan pada anak untuk membiasakan hidup bersih dengan mandi dan cuci tangan teratur, bermain menggunakan alas kaki dan rutin memotong kuku. Selain itu, orang tua juga harus memutuskan daur hidup cacing dengan cara mencuci sayuran dengan benar, tidak memakai pupuk tanaman yang dicampur kotoran manusia dan memasak makanan sampai matang.

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!